Ganyang Kaum Liberal

•02/02/2010 • Leave a Comment

“Mereka tidak punya legal standing, mereka tidak berhak untuk mengajukan permohonan uji materiil. Tidak ada hak konstitusionil mereka yang dilanggar oleh UU No.1/PNPS/1965.  IMPARSIAL, ELSAM, YLBHI dan lain-lain itu tidak bergerak di bidang keagamaan, jadi tidak ada kegiatan mereka yang terhambat atau (apalagi) terlanggar dengan PNPS ini, maupun potensial terlanggar”. Demikian kata Ketua Tim Advokasi FUI, Munarman,SH, di hadapan Menteri Agama dan sejumlah pejabat tinggi Departemen Agama dalam silaturrahmi dengan para pimpinan ormas Islam, akhir bulan lalu di Jakarta.

Saya yang hadir bersama Pimpinan As Syafiiyyah, KH. Abdur Rasyid Abdullah Syafi’i menyampaikan bahwa FUI berkali-kali mendemo Depag untuk mendesak agar segera mengeluarkan rekomendasi kepada Presiden untuk menerbitkan Kepres Pembubaran Ahmadiyyah. Namun Depag belum memberikan rekomendasi kepada presiden.  Jadi, kalau UU No 1/PNPS/1965 sampai dicabut oleh Mahkamah Konstitusi (MK), maka ini akibat Depag terlambat memberikan rekomendasi kepada Presiden untuk membubarkan Ahmadiyyah dan aliran sesat lainnya dengan UU tersebut.

Okelah, sekarang kita hadapi kaum liberal yang telah mengajukan permohonan uji materiil terhadap satu-satunya payung hukum untuk melindungi agama di Indonesia ini dari rongrongan kaum liberal dan aliran sesat.  Kita harus kompak dan bersatu.  Saya sampaikan kepada hadirin, FUI siap mengkoordinir seluruh ormas-ormas Islam untuk bersama-sama mengawal persidangan menghadapi  kaum liberal.  Juga FUI telah telah menyiapkan para pengacara muslim yang kita akui komitmen perjuangannya untuk diberi surat kuasa oleh para pimpinan ormas Islam.

Alhamdulillah, dua hari kemudian, dengan izin Allah sekitar 50 orang wakil ormas dan lembaga Islam hadir dalam pertemuan FUI di kantor Muhammad Luthfie Hakim & Partners di kawasan Menteng Jakarta untuk memberikan surat kuasa resmi kepada Tim Pembela FUI yang terdiri dari Luthfie Hakim, Munarman, Assegaf, Ahmad Mihdan, Mahendradatta, Samsul Bahri, dan lain-lain untuk mewakili dan mendampingi para pimpinan ormas Islam dalam kedudukan sebagai pihak terkait dalam persidangan-persidangan uji materiil terhadap UU tersebut di MK.

Para wakil ormas yang hadir bersepakat untuk hadir dalam setiap sidang di MK sejak 4 Februari 2010, baik para pimpinan yang akan duduk di dalam ruang sidang sebagai pihak terkait, maupun para jamaah yang akan dikerahkan untuk memenuhi balkon-balkon dan pelataran MK sebagai bentuk komitmen mereka dalam perjuangan menjaga aqidah Islamiyyah.

Sidang-sidang uji materiil UU no 1/PNPS/1965 tentang penodaan agama insya Allah akan menjadi panggung dakwah bagi para pimpinan umat Islam untuk menyampaikan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang sangat toleran terhadap komunitas-komuntas lain sepanjang tidak memusuhi Islam dan kaum muslimin.  Juga Islam tidak memaksa orang lain untuk masuk ke dalam Islam (QS. Al Baqarah 256). Namun Islam punya mekanisme untuk mempertahankan umatnya agar tetap di dalam Islam sampai akhir hayat (QS. Ali Imran 103), dan tidak murtad alias keluar dari Islam (QS. Al Baqarah 217).  Nabi saw. bersabda: “Siapa yang mengganti agama (Islam)nya, maka bunuhlah dia” (HR. Bukhari). Islam juga tidak membiarkan pemeluknya bebas berbuat semaunya keluar masuk Islam (QS. An Nisa 137).  Dan Islam tidak akan membiarkan siapapun mengolok-olok dan menodai Islam (lihat Ibnu Taimiyyah, As Sharim Al Maslul ala Syatimir Rasuul).

Kaum liberal memang keterlaluan. Dulu mereka melalui kelompok AKKBB menantang-nantang umat Islam hingga terjadi insiden Monas 2008.  Kini mereka memaksakan permohonan uji materiil UU No 1/PNPS/1965, padahal tidak punya legal standing. Argumentasi mereka pun tampak lucu. Misalnya menyoal UU tersebut yang bicara tentang larangan terhadap penyimpangan dari ajaran pokok agama, dengan argumentasi pertarungan antara Musa a.s. dengan Fir’aun dan pertarungan antara Nabi Muhammad saw. dengan kaum Quraisy. Mereka menyebut masalah Ahmadiyah sebagai perbedaan pendapat (khilafiyah).  Padahal Ahmadiyah itu telah menyimpang jauh sekali dari Islam. Lebih jauh daripada penyimpangan Musailamah Al Kadzdzab dan para pengikutnya di zaman Rasulullah. Padahal Khalifah Abu Bakar r.a. memerangi Musailamah dan para pengikutnya tatkala tidak mau kembali ke pangkuan Islam.

Perlu kita ketahui, LSM-LSM liberal itu adalah antek-antek kaum kapitalis kafir untuk penyebaran ide-ide kebebasan dan demokrasi dalam rangka menskularisasi dunia Islam termasuk Indonesia. Amerika sebagai gembong kapitalis melalui The Asia Foundation maupun lembaga-lembaga lain aktif mendanai LSM-LSM liberal. Target mereka adalah umat Islam kehilangan kekuatannya dengan rusaknya pemahaman mereka terhadap ajaran Islam yang benar.

Oleh karena itu, terhadap mereka yang kini bermaksud membuat kekacauan di negeri ini dengan upaya melepas payung hukum bagi pencegahan penodaan agama di negeri ini, hanya satu kata untuk mereka:GANYANG!!!      ALLAHU AKBAR!!! 3x

Haiti pasca Gempa

•28/01/2010 • Leave a Comment

Rabu, 27/01/2010

Apa kesamaan semua bencana alam di seluruh dunia? Mulai dari tsunami Aceh, Indonesia, sampai gempa bumi dahysat di Haiti baru-baru ini, ternyata hanya masjid lah yang tidak runtuh karena guncangan dan hantaman bencana alam tersebut.

Selasa (26/1) sekelompok Muslim dari komunitas Islam di Karibia, tiba di Port-au-Prince dengan membawa bantuan. Keesokan harinya, pemimpin tim berkata, “Kami sampai ke Haiti dengan selamat. Dan sekarang kami ada di Masjid Al-Tawhid di Port-au-Prince. Kami berada di jalan sepanjang malam. Sekitar pukul dua pagi, kami menyeberangi perbatasan ke Republik Dominika, sampai kami bertemu dengan saudara-saudara kami di Port-au-Prince.

“Sementara situasi masih berbahaya, dan kami belum mengambil langkah apapun untuk melindungi mereka. Kami bergantung pada Allah, Subhanallah. Kita tidak dapat berdiam diri ketika saudara-saudara kita tidak memiliki cukup makanan dan air. Seluruh kota jatuh dalam kekacauan. Siang dan malam orang-orang berdiri di antrian untuk minyak tanah. Saudara-saudara kita telah membantu kami membongkar truk. Mereka, istri-istri mereka dan anak-anak mereka senang melihat makanan dan minuman. Melihat kami, mereka mengucapkan takbir ‘Allahu Akbar!’ Mereka menunggu kami. Setelah pembongkaran, kita melakukan shalat tahajjud berjamaah. Semoga Allah membantu kita semua!”

Menurut seorang Muslim yang berhasil ditemui di Masjid Al-Tawhid, pada pagi hari tanggal 20 Januari, seusai shalat Shubuh, sekelompok Muslim berbaring tidur-tidur ayam di Masjid. “Kami beristirahat sejenak, tapi kemudian terasa getaran hebat. Semua orang mulai berteriak Syahadat dan bergegas ke jalan. Segala puji bagi Allah, tidak ada yang mengerikan terjadi pada Masjid, ketika semua bangunan runtuh. Masjid berdiri kokoh di celah-celah, bahkan tidak sedikitpun bergoyang.” kata seorang juru bicara.

Saat ini, otomatis Masjid Al-Tawhid di Port-au-Prince telah berubah menjadi tempat penampungan sementara bagi umat Islam dan juga orang-orang non-Islam. Ketika terjadi gempa, semua orang berlari ke masjid dan diam di sana sambil menggigil dan menangis ketakutan. Pasca gapma, mereka yang tidak cocok dan tidak kebagian tenda, tinggal di kamp-kamp di sekitar masjid. Banyak orang yang terluka dan membutuhkan perawatan medis, makanan dan air.

Selain Masjid Al-Tawhid, yang tidak terkena gempa dan masih berdiri kokoh juga adalah Masjid Al-Fatihah juga di Port-au-Prince. (sa/camuslm)

100 Hari SBY Dihadapan Ustadz Abu

•26/01/2010 • Leave a Comment
PostDateIconTuesday, 19 January 2010 15:40 | PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan | PDF Print E-mail
alt

Program 100 hari pemerintahan Presiden SBY sudah banyak diprediksi akan mengalami kegagalan total. Selain disibukkan dengan Pansus Angket Bank Century DPR, rezim SBY juga sibuk menghadapi perang melawan korupsi yang justru menjadi bumerang bagi pemerintahannya serta isyu adanya keretakan dalam KIB II sehingga memunculkan wacana reshuffle Kabinet.

SBY dinilai tidak konsisten ketika mengatakan akan berdiri paling depan memerangi korupsi, karena ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani terlibat skandal Century, SBY tidak punya nyali untuk memecatnya.. Hal inilah yang menjadikan rakyat semakin tidak percaya atas kredibilitas Presiden SBY. Bahkan mayoritas umat Islam semakin tidak percaya kepadanya karena terus menjadi pelindung Ahmadiyah serta menolak pemberlakuan syariat Islam di Indonesia.

Berikut ini wawancara Abdul Halim dari Suara Islam dengan Ustad Abu Bakar Ba’asyir, seputar 100 hari pemerintahan Yudhoyono dan penegakan syariat Islam di Indonesia.

Bagaimana menurut Ustad Abu, program 100 hari pemerintahan SBY sekarang ini, apakah sukses atau gagal?

Semua program rezim sekarang ini khususnya mengenai pemberantasan mafia hukum memang dhohirnya dilaksanakan, tetapi saya tak yakin bisa sukses. Karena sistim hukumnya tidak mendukung dan kemungkinan yang memiliki program masih terlibat (mafia hukum) di dalamnya, sehingga hanya sekedar untuk menunjukkan bukti-bukti sudah berbuat. Jadi persoalannya sistim hukum di Indonesia tidak mampu menyelesaikan persoalan dengan tuntas.

Apa karena sistem hukum kita sekuler?

Ya, karena sistim hukum kita sekuler. Jadi kalau tidak mau kembali kepada sistim hukum Islam, maka tidak akan ada persoalan yang bisa diselesaikan, kalaupun ada cuma cabang-cabang saja, jadi tidak bisa tuntas. Sebab kalau bukan sistim hukum Islam, maka rezimnya itu sendiri mengatur negara bukan karena ibadah, tetapi mengatur negara hanya karena mencari dunia, itu persoalannya! Kalau selama mengatur negara bukan karena Allah dan bukan untuk mencari kesuksesan di akhirat, selamanya mengatur negara mau tak mau dijadikan kepentingan dunianya.

Terus menerus terjadinya korupsi, apakah karena akhlak para pejabat Indonesia sudah rusak?

Memperbaiki akhlak tak mungkin tanpa syariat Islam, itu omong kosong! Pancasila tidak akan bisa menyelesaikan akhlak. Faham nasionalis, sosialis dan demokrasi, semuanya malah merusak akhlak. Jadi  kalau ingin memperbaiki akhlak manusia, mesti dengan hukum dari yang menciptakan manusia, harus dengan hukum Islam. Seperti Nabi Muhammad SAW, memperbaiki akhlak bangsa Arab yang seribu persen lebih rusak dari akhlak bangsa Indonesia, ternyata bisa selesai dengan memakai hukum Islam, bukan adat istiadat dan nasionalisme Arab, tetapi memakai syariat yang diturunkan Allah. Saya tidak percaya bisa memperbaiki akhlak di Indonesia tanpa Islam. Karena itu yang bisa menuntaskan hanya kembali ke syariat Islam, yang lain omong kosong.

Ustad Abu menyebut demokrasi, apakah demokrasi bertentangan dengan Islam?

Demokrasi bertentangan dari segi paling pokok dengan Islam, dimana Islam mengajarkan Tauhid, bahwasanya menetapkan hukum adalah kedaulatan ditangan Allah. Sedangkan demokrasi sebaliknya,  dimana menetapkan hukum  ditangan rakyat. Jadi sebenarnya demokrasi merupakan syirik besar sekali. Adapun letak syiriknya adalah pada kedaulatan menetapkan hukum untuk mengatur manusia, padahal itu hak Allah seratus persen. Dasarnya adalah ayat Al Qur’an: “Inil hukmu illa lillah”. Jadi menetapkan hukum ditangan Allah.

Kalau kita bikin hukum, maka dasarnya harus memakai hukum Islam. Hukum yang sudah ditetapkan Allah tidak perlu diadakan perubahan. Karena hukum yang sudah ditetapkan Allah dan Rasulullah sifatnya paling benar, paling modern, paling ilmiah dan bisa bertahan sampai hari kiamat. Zaman kapanpun hukum Islam paling tinggi nilainya. Adapun yang belum ditetapkan Allah, manusia bisa membikin tetapi dasarnya harus Islam.
Demokrasi itu bukan saja kerusakannya sedikit tetapi mendasar, dosa syirik, bukan dosa biasa. Demokrasi menurut Abul A’la Al Maududi berarti mempertuhankan rakyat. Jadi tuhannya demokrasi itu rakyat, bukan Allah. Tuhannya orang yang percaya demokrasi itu rakyat meski mulutnya selalu bilang Allah, tetapi perbuatannya mempertuhankan rakyat.

Karena itu orang yang mengamalkan demokrasi dan percaya pada demokrasi tidak ada guna hajinya dan sholatnya, mereka akan masuk neraka, saya yakin itu! Silahkan sholat sampai benjut kepalanya, silahkan haji setiap tahun sampai habis uangnya, silahkan mau korban dengan sapi atau kerbau. Tetapi selama dia masih meyakini dan mengamalkan demokrasi, maka tempatnya di neraka. Jelas dia telah musyrik, bukan muslim.

Jadi para tokoh parpol juga masuk neraka?

Kalau dia tidak mau paham, nanti tempatnya di neraka. Sholatnya tidak ada gunanya, karena demokrasi itu syirik, sama dengan orang yang menyembah berhala. Kalau menyembah berhala itu mengambil hak Allah disembah untuk diberikan kepada berhala. Kalau demokrasi itu mengambil hak Allah kedaulatan untuk diberikan kepada manusia, jadi sama saja. Jadi tuhannya orang demokrasi itu manusia, meskipun mulutnya bilang tuhannya Allah, sebagaimana Abu Jahal mulutnya bilang tuhannya Allah, tetapi dalam perbuatan tuhannya Latta dan Uza. Setelah mendengar keterangan ini orang partai politik masih ngotot, silahkan nanti kalau sakaratul maut, insya’ Allah akan membenarkan apa yang saya katakan ini.

Mengapa para pejabat tinggi negara tidak peka terhadap penderitaan rakyat, seperti mereka memakai mobil mewah seharga Rp 1,3 miliar?

Itulah yang saya katakan, orang itu kalau mengurus negara bukan dengan tujuan ibadah kepada Allah, pasti tujuannya untuk ibadah kepada perut. Jadi tujuannya mengurus negara untuk perut, sehingga terjadi praktek semacam itu. Kecuali kalau orang mengurus negara tujuannya untuk ibadah kepada Allah. Jadi mengatur negara dengan hukum Allah untuk mencari pahala dari Allah, baru nanti semuanya akan bagus.

Berdasarkan uraian Ustad Abu, bisakah kita menilai pemerintahan ini merupakan pemerintahan yang kacau dan amburadul ?

Ya! Kacau, amburadul, syirik dan kafir. Memang begitu! Saya siap untuk berdiskusi dengan ulama siapa saja, kalau perlu mubahalah, siapa yang bohong. Bagi saya bukan saja amburadul, tetapi pemerintahan ini pemerintahan syirik dan kafir. Karena dia menggunakan dasar negara dasar syirik yaitu demokrasi. Dia tidak mau menggunakan dasar negara ini dengan dasar Islam. Jadi ini pemerintahan syirik dan kafir.

Kalau mereka berdalih di Indonesia bukan hanya umat Islam saja tetapi ada juga yang lain, bagaimana menurut Ustad Abu?

Zaman Nabi juga bukan umat Islam saja, zaman Nabi juga pluralitas. Pluralitas itu memang sudah sunnatullah. Hidup di dunia ini pluralitas heterogen, akhirat baru homogen. Kalau surga tempatnya orang Islam, maka neraka tempatnya orang kafir. Supaya pluralitas ini bisa diatur dengan adil, maka hukum Islam mesti berkuasa. Jadi zaman Nabi dan Khulafaur Rasyidin juga pluralitas. Apa mereka lebih pintar dari Nabi, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali? Mereka juga pluralitas. Persoalannya, jawaban itu sebenarnya mungkin karena mereka bodoh tidak mengerti sejarah. Tetapi kalau mengerti sejarah, ya karena hawa nafsu. Tuhannya hawa nafsu, itu tadi persoalannya! Tidak ada alasan, kalau mengaku Islam ya Islam, jangan main-main.

Mengenai syariah Islam, mengapa sampai sekarang sulit diterapkan di Indonesia?

Memang pertama kali kesalahan pada umat Islam sendiri, mengapa umat Islam terlalu lunak padahal hukum Islam harus dipegang teguh. Kadang kadang umat Islam mengalah demi persatuan, itu tidak boleh. Persatuan dengan orang kafir bagus, hidup rukun bagus, tetapi ada syaratnya yaitu persatuan dibawah hukum Islam. Itulah yang diamalkan Nabi dan para sahabat, sehingga orang-orang kafirpun menikmati hidup di bawah hukum Islam karena mendapatkan keadilan.

Syariat Islam sulit diterapkan di Indonesia karena orang Islam mau toleransi dengan membuat hukum demi persatuan semu. Sebenarnya itu bukan persatuan tetapi penggerogotan. Memang sejak merdeka, orang Islam sudah salah langkah, mengapa mau dengan dasar nasionalis. Mengapa tidak mempertahankan syariat Islam. Lebih baik pecah daripada memakai dasar di luar Islam. Tampaknya persatuan tetapi sesungguhnya penggerogotan terhadap Islam. Buktinya Islam terus digerogoti, itu tidak bisa diterima! Baru adil kalau hukum diatur Islam dan orang Islam menjadi teguh memegang Islam.

Jadi dalam mempertahankan Islam jangan main-main dan jangan lunak-lunak. Kita mau korban demi persatuan dengan orang kafir hanya untuk urusan dunia, seperti tolong menolong dan saling utang menghutang demi urusan dunia atau demi kerukunan. Namun tidak boleh kerukunan mengorbankan syariat. Kerukunan harus dibawah naungan syariat Islam.

Mungkinkah Indonesia menjadi negara baldatun thoyibatun wa robbun ghofuur dengan menerapkan syariat Islam?

Jelas kalau diterapkan dengan ikhlas bahkan menjadi rahmatan lil alamin. Indonesia akan dinaungi dengan rahmatan lil alamin, baik orang Islam maupun kafir dzimmi yang mau tunduk kepada syariat Islam. Insya’ Allah menjadi negara baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur. Kuncinya satu, berdasarkaan Islam dan hukum positifnya Islam. Boleh mengambil hukum dari orang kafir selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, seperti hukum  lalu lintas.

Dasar negara dan asas tunggalnya harus syariat Islam, Al Quran dan Sunnah. Boleh mengambil beberapa peraturan dari orang kafir atau membuat sendiri asal sandarannya Al Quran dan Sunnah. Tetapi yang sudah ada pokok-pokoknya tidak boleh dirubah, misalnya hukum mencuri adalah potong tangan kalau memenuhi syarat, sedangkan hukum qishosh bagi pembunuh diserahkan kepada keluarganya. Jika mau memaafkan diberi ganti rugi, tetapi jika tidak maka dibunuh. Itu hukum paling  modern dan ilmiah, tidak perlu dirubah. Karena hukum yang sudah ditetapkan Allah akan bertahan hingga hari kiyamat. Nilainya paling modern, paling ilmiah dan paling praktis untuk bangsa mana saja dan siapa saja.

Tetapi jika belum ada kita boleh berfikir, kalau perlu peraturan orang kafir kita tinjau. Jika baik bisa diambil, tetapi yang menjadi ukuran adalah Islam bukan kemauan rakyat. Tetapi kalau urusan bikin jembatan silahkan musyawarah dengan rakyat. Tetapi kalau sudah (hukum) Islam, tidak perlu lagi musyawarah dengan rakyat. Orang Islam harus tegas, kalau menolak sudah bukan Islam lagi, tidak ada faham semacam ini.

Bagi orang Islam yang menolak syariat dikiranya masih muslim, karena dia memiliki keyakinan yang penting tetap percaya laa illaha illallah, itu tidak bisa. Orang bisa  murtad karena hati (mengingkari), bisa murtad karena ucapan dan bisa murtad karena perbuatan. Perbuatannya menolak hukum Islam bisa menjadi murtad, ini faham ahlu sunnah wal jamaah.

Kalau orang hanya yang penting hatinya percaya meskipun ucapan dan perbuatannya mengejek Allah dan Rasulullah, maka faham ini disebut murjiah. Faham ini yang kena orang Islam pada umumnya. Tetapi ada yang ekstrim keatas, orang menyalahi hukum kafir, judi kafir, zina kafir meskipun masih mengaku sebagai muslim. Faham ini jelas faham sesat khowarij. Khowarij dan murjiah sesat, yang benar faham ahlu sunnah wal jamaah. Indonesia mayoritas berfaham murji’ah, tetapi kalau khowarij sudah hampir tidak laku karena mengkafirkan orang lain. Sekarang faham murji’ah yang mendominasi Indonesia.

Bagaimana nasehat Ustad Abu terhadap pemerintahan Yudhoyono terutama pada program 100 hari dan penerapan syariat Islam di Indonesia?

Bagi saya, (suatu) rezim itu tidak perlu terlalu diresahkan (karena) rezim pada dasarnya kurang lebih selama sistimnya benar. Nasehat saya kepada pemerintahan SBY, rombaklah sistim ini kembali ke Islam seratus persen dengan menggunakan tentara dan polisi, karena anda ngakunya Islam. Jangan takut, karena sudah diberi Allah kekuasaan, diberi tentara dan polisi yang mayoritas muslim. Sistim ini perlu dirombak kembali kepada Islam.

Orang kafir (cukup) diberi pengertian, tidak usah khawatir (mereka) tidak akan dipaksa masuk Islam, orang kafir akan diperlakukan secara adil. Dalam Al Qur’an firman Allah:  “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan adil kepada orang kafir yang tidak memerangi agamamu dan mengusir kamu dari negerimu, karena Allah suka kepada orang yang berbuat baik dan adil.”

Siapa orang kafir yang tidak memerangi kamu, yakni orang kafir dzimmi, yang menerima dan tunduk dibawah hukum Islam. Mereka tetap kafir, mereka wajib diperlakukan dengan baik dan adil. Nabi pernah mengancam barangsiapa orang Islam yang mendholimi orang kafir dzimmi, aku menjadi musuhnya di hari kiamat. Orang kafir dzimmi wajib dijaga keamanan darah dan hartanya serta diperlakukan dengan adil. Tetapi kalau sudah diberitahu begitu masih tidak mau, baru senjata berbicara dengan menggerakkan polisi dan tentara untuk memerangi mereka.

Kalau rezim Yudhoyono tidak mau begitu, mereka murtad. Kalau sudah dinasehati tetap tidak mau, mereka murtad. Jangan ragu-ragu! Karena menolak hukum Islam menjadikan mereka kafir, fasik dan dholim. Dholim dan kafir sama saja, kafir besar, fasik besar dan dholim besar. Karena ayat ini hubungannya dengan mengkritisi orang Yahudi yang merubah hukum zina dari rajam menjadi dicoret-coret.

Indonesia juga merubah hukum, mestinya (menggunakan hukum) Islam dirubah menjadi sekuler, itu kafir. Rezim Yudhoyono bagi saya tidak keberatan, sebab ada kelebihan dan kekurangannya. Tetapi yang perlu diperhatikan dulu adalah agar dirombak sistimnya menjadi Islam. Kalau pemerintahan Yudhoyono mau merubah menjadi sistim Islam, kita semua akan berdiri dibelakangnya. Tetapi kalau tidak mau, saya ingatkah anda murtad! Tidak ada gunanya sholat anda, haji anda, majelis dzikir anda tidak bisa menolong anda.

Saya sendiri sudah mengirim surat ke Yudhoyono, dan Habib Rizieq juga ikut menandatanganinya. Tetapi hingga sekarang tidak ada tanggapan. Sebagaimana pernah saya baca di suatu majalah, faham Yudhoyono adalah pluralisme. Saya nasehatkan kepada Yudhoyono, supaya kembali ke Islam, sebab orang yang berfaham pluralisme itu murtad, karena dia menolak syariat Islam. Itulah nasehat saya kepada Yudhoyono !
(Abdul Halim)


Nama Besarnya Diakui Dunia

Siapa yang tidak kenal Ustad Abu Bakar Ba’asyir, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ulama besar kelahiran Jombang, Jawa Timur 72 tahun lalu itu, namanya dikenal di dunia internasional. Betapa tidak, media massa Barat telah memasukkan Ustad Abu kedalam golongan lima ulama besar yang paling berpengaruh di dunia Islam dewasa ini.

Adapun keempat ulama besar lainnya adalah Ayatullah Ali Al Sistani (Ulama besar Syiah Irak), Ayatullah Ali Khamenei (Pemimpin Spiritual dan Tertinggi Iran), Syekh Muqtada Al Sadr (Pemimpin Perlawanan Irak terhadap penjajahan AS) dan Syekh Abdul Aziz Bin Baz (Mufti Besar Arab Saudi). Bahkan nama besar Syekh Al Azhar Mesir, Syekh Yusuf Qordhowi dari Qatar dan Syekh Hasan Nasrullah pemimpin Hizbullah Lebanon yang pernah mengalahkan Israel dalam perang 2006, oleh media massa Barat belum bisa dimasukkan kedalam golongan ulama besar di dunia Islam.

Ustad Abu sejak muda sudah dikenal konsisten dalam memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika rezim Orba dan Reformasi berusaha menghambat perjuangannya dengan menfitnah dan memasukkannya ke penjara. Namun segala halangan dan rintangan itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus konsisten memperjuangkan berlakunya syariah Islam di Indonesia. Semoga perjuangan Ustad Abu sukses di kemudian hari dan menjadikan Indonesia baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur, amin. (*)

Ciri Kaum Munafik, Menolak Hukum Allah

•26/01/2010 • Leave a Comment

Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim (TQS al-Nur [4]: 48-50).

Di antara ciri  penganut ‘Islam Liberal’ adalah kerasnya penolakan mereka terhadap penerapan syariah. Seolah, penerapan syariah menjadi momok menakutkan yang harus dijauhi. Berbagai propaganda pun mereka lancarkan untuk meredupkan perjuangan syariah. Tanpa takut dosa, mereka selalu bersikap nyinyir dan negatif terhadap syariah. Di antara mereka, misalnya, ada yang mengatakan bahwa jika Islam diterapkan maka kalangan miskin dan wanita menjadi korban pertamanya. Ada pula yang menyatakan, penerapan syariah dalam kehidupan modern hanya akan membalik sejarah ke zaman unta. Kalau hendak diterapkan, maka cukup nilai-nilainya saja. Dan masih banyak lontaran yang memerahkan telinga kaum Mukmin.

Jika terhadap Islam mereka demikian ‘kritis’,  sikap serupa tidak mereka lakukan terhadap Barat. Sebaliknya, mereka amat kagum terhadap Barat. Seolah, segala yang datang dari Barat terjamin benar, dan oleh karenanya wajib diterima tanpa reserve. Siapa pun yang menolaknya, akan tertinggal dari roda kemajuan zaman.

Jika ditelusur dalam al-Quran, sikap menolak syariah merupakan ciri dari kaum Munafik. Cukup banyak ayat al-Quran yang menggambarkan sikap demikian. Di antaranya adalah QS al-Nur [24]: 48-50.

Menolak Syariah

Allah SWT berfirman: Wa idzâ du’û ilâLlâh wa Rasûlihi liyahkuma baynahum (dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul mengadili di antara mereka). Kata ganti mereka pada kata du’û merujuk kepada ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya diberitakan mengenai orang-orang yang menyatakan diri mereka sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul SAW, serta bersikap taat. Sehingga, sebagaimana dikatakan al-Alusi, ‘mereka yang dipanggil’ di sini mencakup semua orang yang mengaku beriman, baik Mukmin maupun Munafik.

Panggilan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam ayat ini bermakna panggilan kepada Kitab-Nya dan Rasul-Nya. Sehingga, frasa idzâ du’û ilâLlâh wa rasûlih bermakna idzâ du’û ilâ KitâbiLlâh wa Rasûlih (jika mereka dipanggil kepada Kitab Allah dan Rasul-Nya). Demikian penjelasan al-Thabari dan al-Baghawi dalam tafsir mereka. Bisa pula bermakna Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw sebagaimana diuturkan al-Qinuji dan al-Qasimi,.

Dhamîr ghâib (kata ganti orang ketiga) pada kata liyahkuma kembali kepada Rasulullah SAW. Sebab, kata al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr, beliaulah yang secara langsung menetapkan keputusan hukum, kendati pada hakikatnya hukum yang diterapkan adalah milik Allah.

Ayat ini menceritakan, kendati pada awalnya mereka semua mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta bersedia untuk taat, namun ketika mereka diseru untuk memutuskan perkara sikap di antara mereka dengan syariah, tidak semua menyanggupinya. Ada sebagian dari mereka yang menolak dan berpaling. Allah SWT berfirman: idzâ farîq[un] minhum mu’ridhûn (tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang). Menurut al-Thabari, maksud dari mu’ridhûn (berpaling atau menolak) di sini adalah berpaling dari menerima kebenaran dan ridha terhadap hukum Rasulullah saw. Atau dengan kata lain, mereka menolak untuk berhukum dengan syariah.

Frasa farîq[un] minhum (sebagian dari mereka) menunjukkan bahwa tidak semua orang yang menyatakan beriman itu bersikap demikian. Kelompok yang berpaling itulah yang ditegaskan dalam ayat sebelumnya bukan orang Mukmin: Wamâ ulâika bi al-mu’minîn (sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang Mukmin). Jika mereka bukan Mukmin, berarti kafir. Sebab, dalam aqidah, hanya ada dua alternatif: Mukmin atau kafir (lihat QS al-Taghabun [4]: 2). Oleh karena mereka mengaku dan berlagak sebagai Mukmin, namun sejatinya kafir, maka mereka tergolong sebagai munafik. Sebagai bukti bahwa mereka bukan Mukmin adalah sikap penolakan mereka terhadap syariah. Padahal, aqidah Islam meniscayakan penerimaan dan ketundukan total terhadap syariah-Nya (lihat QS al-Nisa’ [4]: 65).

Di samping saat ini, penolakan kaum Munafik terhadap syariah juga digambarkan dalam banyak lainnya. Seperti dalam firman Allah SWT: Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu (TQS al-Nisa’ [4]: 61).

Diskriminatif terhadap Syariah

Sebagaimana telah terpapar, sikap dasar kaum Munafik itu adalah menolak syariah. Jika suatu saat mereka terlihat bersedia tunduk terhadap keputusan syariah, bukan berarti mereka telah berubah sikap. Namun ketundukan mereka disebabkan karena kesuaian mereka dengan keputusan syariah. Sikap itu dideskripsikan dalam ayat selanjutnya. Allah SWT berfirman: wa in yakun lahum al-haqq ya’tû ilayhi mud’inîn (tetapi jika keputusan itu untuk [kemaslahatan] mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh).

Kata lahum al-haqq berarti hak buat mereka. Sementara kata mud’inîn, menurut al-Thabari berarti tunduk kepada hukumnya, membenarkannya, dan tanpa tanpa paksaan. Al-Zujjaj, sebagaimana dikutip al-Syaukani, mengartikannya sebagai bersegera untuk taat.  Dengan demikian, frasa ini memberikan makna: apabila seruan kepada syariah itu menguntungkan mereka, maka mereka bersedia tunduk datang kepada Rasulullah saw atau keputusan syariah. Sebaliknya, demikian kata Ibnu Katsir, jika keputusan itu merugikan mereka, maka mereka segera berpaling dan mengajak kepada selain yang haq dan bertahkim kepada selain Rasulullah saw. Hal itu disebabkan karena ketundukan mereka tidak didasarkan kepada keyakinan bahwa keputusan syariah itu benar, namun karena kesesuaannya dengan hawa nafsu mereka. Sehingga jika keputusannya bertabrakan dengan hawa nafsunya, mereka menolak dan berpaling kepada yang lain.

Jelaslah bahwa menolak syariah merupakan sikap dasar kaum Munafik. Kalaupun mereka mau menerima, sikapnya amat diskriminatif. Ada hukum-hukum yang diterima, dan ada yang ditolak. Penetapan atasnya ditentukan oleh selera hawa nafsu dan kepentingannya. Jika cocok dengan selera hawa nafsu dan kepentingannya, mereka bersedia mengambilnya. Sebaliknya, jika bertentangan dengan selera dan kepentingannya, sudah pasti akan ditinggalkan. Bahkan, tak menutup kemungkinan mereka mencerca dan menistakannya.

Sikap tersebut jelas berbeda dengan sikap kaum Mukmin. Kaum Mukmin tidak pernah menolak syariah, apa pun keputusannya. Apakah menguntungkan diri mereka atau tidak, mereka tetap tunduk dan patuh terhadapnya. Bagi mereka, ketetapan syariah pasti benar dan wajib diterima. Sikap itu digembarkan dalam firman Allah SWT: Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS al-Nur [24]: 51).

Hatinya Sakit, Ragu, atau Dzalim

Penolakan mereka terhadap syariah itu muncul bukan tanpa sebab. Sikap itu disebabkan karena dalam hati mereka terdapat penyakit. Allah SWT berfirman: Afî qulûbihim maradh[un] (apakah itu [karena] dalam hati mereka ada penyakit?). Sebagaimana dinyatakan al-Baghawi, kendati ayat ini berbentuk istifhâm (kalimat tanya), namun maknanya justru mengandung celaan terhadap mereka. Artinya, dalam hati mereka benar-benar terjangkit penyakit. Menurut al-Razi, penyakit di dalam hati mereka itu adalah kemunafikan. Keberadaan penyakit dalam hati kaum Munafik ini juga dikemukakan dalam beberapa ayat, seperti dalam al-Baqarah [2]: 10. Dalam ayat itu Allah SWT berfirman: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Allah SWT berfirman: am [i]rtâbû (atau [karena] mereka ragu-ragu?). Termasuk menjadi penyebab sikap mereka adalah karena ada keraguan dalam hati mereka. Tentang ini, juga diberitakan dalam firman Allah SWT: Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah ‘alâ harf (dengan berada di tepi); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. (TQS al-Hajj [22]: 11). Makna frasa ‘alâ harf (berada di tepi) dalam ayat ini menurut Mujahid adalah ‘alâ syakk (dalam keraguan).

Allah SWT berfirman: am yakhâfûna an yahîfaLlâh ‘alayhim wa rasûluhu (ataukah [karena] takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku dzalim kepada mereka?). Ini juga menjadi penyebab lainnya sikap mereka. Mereka amat takut jika keputusan syariah itu merugikan kepentingan mereka. Sebagai orang kafir, tentu saja banyak sekali selera mereka yang bertentangan dengan syariah. Riba, zina, miras, korupsi, dan berbagai larangan syariah amat mungkin menjadi kegemaran mereka. Sebaliknya, shalat, zakat, puasa, dakwah, jihad, dan berbagai kewajiban syariah lainnnya dirasakan mereka amat memberatkan. Mereka pun menuduh semua ketetapan hukum itu mendzalimi mereka; dan oleh karenanya mereka pun menolak ketentuan itu.

Tuduhan itu jelas salah. Seluruh hukum-Nya pasti benar dan adil (lihat QS al-An’am [6]: 115). Allah SWT juga sama sekali tidak pernah mendzalimi hamba-Nya (lihat QS Ali Imron [3]: 182, al-Anfal [8]: 51). Jika demikian, maka sesungguhnya bukan Allah SWT dan Rasul-Nya yang dzalim, namun merekalah yang justru orang yang dzalim. Allah SWT berfirman: Bal ulâika hum al-zhâlimûn (sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim). Sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Maidah [5]: 45, orang-orang yang tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan-Nya, adalah orang-orang dzalim. Demikian juga kekafiran mereka. Sesungguhnya kemusyrikan adalah kedzaliman yang amat besar (lihat QS Luqman [31]: 13)

Demikianlah karakter Munafik dan akibatnya. Maka berhati-hatilah terhadap mereka. WaLlâh a’lam bi al-shawâb.

Ustad Abu Bakar Ba’asyir akan Kirimkan Mujahidin ke Manokwari

•13/01/2010 • Leave a Comment

Kota Manokwari saat ini menjadi perhatian umat Islam nusantara. Kota yang terletak di bagian kepala burung pulau paling timur Indonesia (Papua) itu menjadi pusat perhatian. Pasalnya, di kota itu akan diterapkan peraturan daerah yang berbasis pada Injil.

Bermula sekitar bulan Februari 2006, ketika Pemerintah Kabupaten dan DPRD Manokwari Provinsi Irian Jaya Barat (Irjabar) menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) ‘Kota Injil’. Namun perkembangan Raperda tersebut, hingga kini masih belum jelas.

Adanya Raperda tersebut, mendapat respon yang beragam dari berbagai kalangan. Selain dinilai berpotensi merugikan salah satu kelompok agama tertentu, juga berpotensi menimbulkan konflik yang berbau SARA.

Untuk memuluskan pengesahan Perda Injil Manokwari, sebanyak 13 anggota DPRD Kabupaten Manokwari mengadakan studi banding di Aceh (27/7/2009). Dalam studi banding tersebut, DPRD Aceh berharap bila Perda Manokwari Kota Injil diberlakukan maka tidak boleh menghambat kerukunan beragama.

Pada periode 2009-2014 sekarang, dari 13 anggota DPRD itu hanya dua orang saja yang masih menjadi anggota DPRD. Kini, nasib Raperda Manokwari Kota Injil masih di tangan DPRD periode 2009-2014 itu.

Raperda Kota Injil dan Rencana Pembangunan Masjid Raya dan Islamic Centre Papua

Alasan yang sangat populer munculnya Raperda Kota Injil ini sebagai pengakuan terhadap sejarah bahwa Manokwari sebagai pintu bagi penyebaran Kristen di tanah Papua. Pada tangal 5 Februari 1855, dua misionaris Jerman, Carl Ottow dan Johan Gottleib Geissler (dikenal sebagai Rasul di Papua), tiba di pulau Mansinam, di pesisir Manokwari, dan menegaskan kawasan ini sebagai tanah suci. Sejak itu, Manokwari dikenal secara tak resmi sebagai “Kota Injil”, dan dalam tahun-tahun belakangan diadakan perayaan untuk memperingati peristiwa itu setiap tanggal 5 Februari. Dengan terbitnya Perda Kota Injil diharapkan tidak hanya masyarakat yang mengakui kekudusan kota Manokwari, namun juga pemerintah. Untuk selanjutnya ada konsuekensi-konsuekensi: menjadikan ajaran-ajaran Injil sebagai dasar-dasar kebijakan pemerintah.

Di balik alasan klasik tersebut, ada pertanyaan yang sangat menggelitik, mengapa tuntutan itu baru muncul pada awal tahun 2006? Apabila masyarakat Kristen di tanah Papua telah memberikan pengakuan Manokwari sebagai Kota Injil mengapa perlu ada pengesahan dari pemerintah? Benarkah alasan dari tuntutan itu hanya dari faktor sejarah? Inti dari pertanyaan di atas terletak pada, pengesahan itu dituntut pada lembaga politik, mengapa sejatinya tuntutan tersebut tidak bisa lepas dari pertimbangan politik pula.

Ada yang berpendapat bahwa alasan Raperda Kota Injil tidak merujuk pada peristiwa pada abad ke-19: masuknya Injil ke tanah Papua pada tahun 1855, namun pada peristiwa di abad ke-21 ini tepatnya tahun 2005, yaitu rencana pembangunan masjid raya dan Islamic Centre di Manokwari.

Konon luas area Islam Centre tersebut sampai empat hektar dan akan menjadi Islamic Centre terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya juga menjadi sumber penolakan umat Kristen di Manokwari yang berada di dekat Bandara: setiap orang yang baru tiba di Manokwari dari atas pesawat akan melihat kubah masjid, bukan bangunan gereja. Sehingga citra Manokwari sebagai Kota Injil akan berubah menjadi Kota Muslim.

Rencana pembangunan Islamic Centre tersebut diakui oleh seorang tokoh Muslim Manokwari yang tidak mau dikutip namanya. Menurutnya, masjid raya dibutuhkan di Manokwari sebagai ibu kota provinsi Papua Barat dan di setiap ibu kota provinsi pasti ada masjid raya. Sedangkan kompleks Islamic Centre akan menjadi kantor-kantor dari ormas-ormas Islam yang ada di Manokwari, dan tidak hanya itu saja, di Islamic Centre akan dibangun fasilitas umum: rumah sakit, pelayanan sosial yang tidak hanya bisa dimanfaatkan oleh umat muslim saja, namun oleh umat non-muslim. Bagi tokoh ini, isu yang selama ini berkembang di Manokwari terlalu dilebih-lebihkan dan merupakan kekhawatiran yang tidak memiliki dasar. “Tidak ada niat umat Islam ingin menjadikan Manokwari sebagai kota Islam,” katanya.

Buktinya, gereja di Manokwari sangat banyak dan besar-besar, tidak mungkin bangunan masjid raya di sini akan mengubah citra Kota Manokwari, dan hal yang lumrah kalau Manokwari sebagai kota provinsi memiliki masjid raya, karena hingga saat ini Manokwari tidak memiliki masjid untuk ukuran masjid raya.

Pendapat tokoh Muslim Manokwari tersebut diaminkan oleh Haji Udin, tokoh masyarakat muslim di sana dan anggota DPRD dari Partai Bulan Bintang (PBB). Menurutnya, penolakan terhadap rencana pembangunan masjid itu sebenarnya menyakitkan hati umat Islam, namun dia tetap ingin terus membuka dialog dan pertemuan dengan tokoh-tokoh Kristen untuk menyampaikan informasi yang benar tentang rencana pembangunan masjid raya. Dan semangat umat Islam di Manokwari untuk membangun sebuah masjid raya tidak pernah luntur, namun masalahnya adalah bagaimana proses tersebut tidak memancing konflik. “Kami sangat berkepentingan menjaga keamanan di kota ini, karena kalau terjadi konflik umat Islam lah yang akan pertama kali menjadi korban,” katanya.

Umat Islam siap berjihad

Meski Perda Kota Injil ini masih dalam rancangan dan belum juga disahkan, jauh-jauh hari Ustadz Abu Bakar Ba’ayir sudah memberikan peringatan agar tidak ada kezaliman mayoritas terhadap minoritas di Papua. Amir Jama’ah Anshorut Tauhid ini bahkan bertekad akan mengirimkan laskar mujahidin ke Papua bila umat Islam dizalimi di Papua. Hal itu disampaikan di hadapan ribuan jamaah pengajian di Masjid Ramadhan Bekasi, Ahad (03/01).

“Kalau nanti (Manokwari) sudah jadi kota Injil, orang dilarang berjilbab, dilarang azan, dilarang bikin masjid, umat Islam harus menentang itu.  Kalau itu betul-betul terjadi, saya berpendapat mengirimkan mujahidin ke sana, seperti Poso kemarin!”

Ustad sepuh ini beralasan bahwa pelarangan hak asasi umat Islam berarti menantang umat Islam.

“Kalau azan dilarang, shalat dilarang, itu mengajak perang namanya. Kalau mampu, lawan itu. Kalau tidak mampu sabar saja. Kita mampu melawan di Manokwari, kita datang ke sana, kita perangi mereka. Karena itu berarti mengumumkan perang melawan Islam,” tegasnya.

“Kalau pemerintah tidak mampu melawan, kita yang akan datang ke sana untuk melawan,” pungkasnya.

[muslimdaily.net/voa-islam]

Logika Dangkal Seorang ‘Kyai NU’ Menentang Kyai Anti-Pancasila

•12/01/2010 • 1 Comment
Diposting pada Senin, 11-01-2010 | 17:17:33 WIB
Beberapa hari lalu, muncul isu berita yang lumayan menyita perhatian penikmat berita di Indonesia, di tengah gegap gempitanya Kasus KPK-Anggodo, Kasus Susno-Antasari, dan Kasus Century. Berita yang penulis maksud adalah kasus munculnya sebuah Masjid dan Kyai Anti Pancasila di Madura.

Asal mula munculnya isu tentang Kyai dan Masjid Anti Pancasila berawal dari informasi berita yang pertama kali diposting oleh Muslimdaily.net dalam rubrik Artikel dengan judul Masjid Anti Pancasila di Madura. Berita keberadaan sebuah masjid yang diasuh seorang kyai Anti-Pancasila yang pertama kalinya dirilis oleh Muslimdaily.net tersebut, kemudian dikutip oleh beberapa media online terkemuka di Indonesia (antara lain Detik.com) beberapa hari kemudian. Mulailah kemudian polemik muncul di tengah masyarakat setelah fakta tersebut muncul.

Dalam informasi yang ditampilkan Muslimdaily.net, ditampilkan foto sosok KH. Achmad Munib yang sudah sepuh namun terlihat tetap teguh. KH. Achmad Munib dikabarkan keluar dari ‘persembunyiannya’ untuk menghadiri acara tabligh akbar yang menghadirkan Ustadz Abu Bakar Ba’syir, Amir Jamaah Ansharut Tauhid. Keduanya sama sekali belum saling mengenal sebelumnya.

Sebelum pengajian (tabligh akbar) dimulai, KH. Achmad Munib ternyata memohon waktu untuk diberi kesempatakn menyampaikan sebuah pesan kepada para jamaah pengajian. Ternyata, sang kyai itu membacakan semacam ikrar atau pernyataan yang kembali menegaskan bahwa ia menolak Pancasila dan fahamnya.

Pernyataan yang dibacakan kyai tersebut bahkan dicetak dalam lembaran kertas yang dibagi-bagikan kepada jamaah pengajian. Isi selebaran tersebut berisi mengenai pengingkaran terhadap hukum-hukum yang dibuat oleh Pancasila. Salah satu isinya menyatakan bahwa Pancasila itu kafir. Pancasila itu sama dengan hukum Fir’aun.

Yang lebih menarik lagi, Kyai Achmad Munib yang memiliki banyak santri itu, tinggal di sebuah komplek rumah yang berada satu area atau komplek dengan masjid besar. Nama masjid itu adalah Masjid Anti Pancasila. Sejak Pancasila dijadikan sebagai dasar negara RI, kyai yang telah berumur lebih dari 80 tahun itu selalu istiqomah menolak dan berlepas diri dari Pancasila. Ia pun menutup diri dari para tetangganya yang masih berpartai dan beliau anggap pendukung eksistensi Pancasila. Kepada mereka (para pendukung eksistensi Pancasila), kyai Achmad tidak memperbolehkan sholat di masjid komplek rumahnya itu. Kendatipun demikian, ia membuka selebar-lebarnya pintu masjid untuk aktivitas masyarakat secara umum dan terbuka. Para santri yang menuntut ilmu kepadanya mendatangi rumah KH. Achmad Munib. Dahulunya, di depan masjid ada sebuah logo bertuliskan “Anti Pancasila Kewajiban Kita Umat Islam”.

Di tengah munculnya berita tersebut, bermuncullah sekawanan ‘tokoh’ dimintai pendpatnya. Diantara yang menarik penulis adalah pendapat seorang ‘tokoh’ NU bernama Kyai Samsul Hadi yang penulis baca dari website GP ANSOR (www.gp-ansor.org). Di dalam website lembaga yang dipimpin oleh H. Syaifullah Yusuf (Gus Iful) tersebut ada sebuah berita berjudul ULAMA NU MINTA TINDAK KIAI ANTI PANCASILA, yang dikutip dari Tempointeraktif. Dalam isi beritanya disebutkan seorang kyai NU bernama Kyai Samsul Hadi meminta dan mendesak agar para Kyai se-Jatim segera menggelar rapat internal dan tabayyun untuk membahasnya.

“Saya mendesak para kiai se-Jatim agar segera menggelar rapat internal dan tabayyun untuk membahas masalah ini,” ujarnya mengutip dari GP-Ansor.

Masih dari sumber website yang sama, yang menampilkan Ulil Abshar (tokoh JIL) sebagai salah satu tokoh yang dipasang dalam polling calon Ketua Umum PBNU 2010-2015, Kyai Samsul yang juga merupakan Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Probolinggo tersebut juga mengecam keras sikap KH. Achmad Munib, seorang ulama asal Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Sumenep, Madura, yang dengan terang dan nyata menyatakan diri Anti – Pancasila.

Kyai Samsul juga menyebut tindakan dan dakwah yang disampaikan oleh KH. Achmad Munib yang tidak setuju dengan Pancasila karena tidak sesuai dengan akidah Islam sebagai perilaku yang tidak masuk akal dan nyeleneh.

“Itu keinginan yang nyeleneh. Indonesia merdeka itu karena Pancasila. Makanya saya katakan kalau beliau ingin mendirikan negara Islam, itu sangat tidak masuk akal,” ujar Samsul Hadi yang ternyata dikenal sebagai ahli ilmu kanuragan itu.

Bahkan lebih tegas lagi, Kiai Samsul Hadi menandaskan, siapa pun orang yang tidak setuju dengan Pancasila, harus hengkang dari Indonesia. Karena asas negara Indonesia itu Pancasila.

Penulis melihat sikap yang dikemukakan oleh Kyai NU bernama Samsul Hadi tersebut lucu, aneh, dan justru tidak masuk akal serta terlihat kontradiksi dalam sebagian besar pendapatnya, jika saudara dan kawan-kawan telah membaca isi berita tersebut. Penulis menganggap lucu dan aneh terhadap rekasi dan sikap Kyai Samsul Hadi karena terlihat jelas letak-letak kontradiksinya. Penulis akan mencoba membahasnya satu persatu.

Pertama, pak Kyai Samsul Hadi menyebutkan bahwa Kyai Achmad Munib dan orang-orang lainnya yang menolak atau anti Pancasila harus keluar dari Indonesia karena Indonesia bukan negara Islam. Jika ingin membuat negara Islam, maka Kyai Achmad Munib dan orang-orang yang sependapat dengan beliau harus keluar dari Indonesia. Pak kyai Samsul Hadi juga menyatakan bahwa Indonesia adalah negara Pancasila.

Dalam hal ini, penulis justru memiliki sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada pak Kyai Samsul Hadi, Ketua PCNU Probolinggo. Satu, sebagai orang yang bergelar ‘kyai’, lebih-lebih menjabat sebagai seorang pimpinan atau ketua sebuah lembaga Islam, tentunya pak Samsul Hadi memahami Islam bahkan lebih dari penulis, seharusnya. Anehnya, sebagai seorang yang paham Islam ia justru menolak sesuatu yang diwajibkan oleh Allah SWT, rabbnya, dan Nabi Muhammad SAW, Nabi nya. Jika memang sudah tahu bahwa Indonesia bukan negara Islam, kenapa pak ‘kyai’ justru ikut mendukung eksistensi sebuah negara kafir itu dan menghardik serta mengusir seorang ulama yang lebih berilmu dan lebih tua darinya keluar dari Indonesia karena alasan sang ulama itu mendakwahkan formalisasi penegakan Syariat Islam atau Negara Islam (penulis menggunakan istilah negara kafir sebagai antonim dari negara Islam karena semua muslim pasti mengetahui bahwa lawan kata muslim adalah kafir_pen). Hal yang lucu menurut penulis, jika memang yang bersangkutan menyandang ‘gelar kyai’.

Kyai Achmad Munib

Lebih dari itu, kenapa pak kyai Samsul yang sudah tahu bahwa negara Indonesia bukan negara Islam tetapi justru membiarkannya saja sedangkan di dalam pelajaran-pelajaran Fiqih dan Syariat yang pernah ia pelajari, bahwa tegaknya sebuah daulah Islam atau syariat Islam adalah sarana yang paling efektif untuk menegakkan perintah-perintah Allah SWT khususnya bab Hudud yang diwajibkan oleh-Nya. Penulis hanya menggumam dalam hati,”Akalmu ditaruh dimana pak kyai?”

Kedua, jika memang pak Kyai pro Pancasila dan Indonesia, kenapa pak kyai angkat bicara dengan lantang dengan nada mencela kepada ulama sepuh KH. Achmad Munib yang memiliki keyakinan kuat atas apa yang beliau pegang sementara pak kyai diam saja melihat adanya Kota Injil Manokwari yang sudah bukan lagi pada tataran konsep atau ajaran tetapi sudah dilaksanakan? Jika melihat ‘gelar kyai’ yang melekat pada pak Samsul Hadi ini benar-benar meresap di hati, maka orang awam pun akan mempertanyakan sikap ketidakkonsistenan kyai Samsul Hadi. Dalam kesimpulan sementara Penulis, kyai Samsul Hadi sangat terlihat sekali inkonsistensinya dalam mengamalkan Pancasila itu sendiri. Jika memang kyai Samsul Hadi seorang Pancasilais, tentunya kyai Samsul juga harus menolak Kota Injil Manokwari. Dan terlebih sebagai seorang muslim, kyai Samsul seharusnya lebih menolaknya. Apakah jika umat Islam hendak menegakkan syariat Islam harus selalu ditolak karena alasan ‘menghormati’ kaum minoritas? Lantas ketika umat minoritas hendak menegakkan ajaran agama yang secara bersamaan melarang praktek ajaran agama lainnya diperbolehkan? Ingat pak kyai, bahwa di Manokwari jilbab, adzan, dan hal-hal berbau keislaman dilarang melalui perda.

Ketiga, kyai Samsul Hadi terlihat lebih merasa berwenang dan berhak untuk melarang ajaran KH. Achmad Munib sedangkan pemerintah dan MUI setempat tidak mempermasalahkannya. Hal itu bisa tersirat dari kalimat yang diucapkan oleh kyai Samsul Hadi, “Kalau masalah ini tidak segera diatasi, ini jelas bisa merusak dan meresahkan masarakat,” ujarnya sambil meminta pejabat pemerintah agar menindak KH. Achmad Munib.

Sikapnya yang merasa lebih berwenang sangat terlihat sekali. Sementara di sisi lainnya, Waka Polres Sumenep, Kompol Achmad Husin, menjelaskan, setiap warga negara harus punya ediologi sesuai dengan yang berlaku di negara Indonesia. Akan tetapi, keinginan untuk mendirikan negara Islam dan menyatakan anti Pancasila merupakan hak individu. Lebih jauh, ia pun mempersilakan KH. Achmad Munib dengan keyakikannya itu.

“Selama keinginan itu tidak berdampak pada warga dan tidak ada pengikutnya, biarkan saja,” kata Kompol Achmad Husin, sebagaimana dikutip dari detiksurabaya.com.

Di dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia dari yang tertinggi yaitu UUD 1945 sampai ke peraturan yang terendah, tidak diatur sama sekali kewenangan seorang kyai untuk mengusir atau melarang suatu ajaran yang tidak bertentangan dengan ajaran agama yang diakui di Indonesia. Nah, pak kyai Samsul ini justru merasa sok berwenang. Kalau menurut penulis, pak kyai Samsul Hadi akan memiliki kewenangan yang seperti itu jika pak kyai Samsul berada di sebuah negara Islam karena di dalam negara Isla, seorang ulama atau kyai memiliki nilai keistimewaan tersendiri. Tentunya terhadap kyai yang jelas dan bukan kyai yang selevel dengan kyai Slamet (sebutan bagi kerbau bule milik keraton Kasunanan Surakarta – Solo).

Kelima, pada kesempatan tersebut, pak kyai Samsul Huda juga menyebutkan bahwa, “Indonesia merdeka itu karena Pancasila. Makanya saya katakan kalau beliau ingin mendirikan negera Islam, itu sangat tidak masuk akal,” ujar Samsul Hadi.

Satu hal lagi yang perlu diluruskan dari pernyataan pak Samsul Hadi yang benar-benar tidak berdasar, adalah pernyataan bahwa Indonesia merdeka karena Pancasila. Dari sudut pandang logika manapun hal itu tidak masuk sama sekali dalam pandangan penulis. Dari sudut pandang historis, kemerdekaan Indonesia mungkin ada yang menyatakan karena pemberian atau hadiah dari Jepang mengingat adanya peran BPUPKI yang merupakan lembaga buatan Jepang. Sementara dari sudut pandang konstitusional, bahkan para pendiri Republik ini menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dan pemberian Allah SWT. Tanpa rahmat-Nya, mustahil bangsa Indonesia akan memperoleh kemerdekaannya. Penulis memiliki bukti tekstual mengenai ini. Bahkan anak-anak SD pun barangkali hafal dan lebih paham daripada penulis. Hal itu bisa dijumpai dalam pembukaan UUD 1945 yang tidak terpisahkan dari batang tubuhnya.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur ….(dst)”

Sebagai seorang kyai dan muslim, seharusnya kyai Samsul Hadi lebih faham bahwa kata-kata “kemerdekaan Indonesia adalah karena Pancasila” menurut penulis memiliki bobot kesyirikan tertentu karena meniadakan peran Allah SWT, sementara di dalam ilmu Tauhid dan Akidah, penulis dulu diajari sejak SD bahwa tidak sesuatu bakal terjadi kecuali atas izin dan kuasa Allah SWT. Sebuah kesalahan double yang dilakukan oleh pak kyai Samsul Hadi. Pertama dari sudut pandang keislaman, dan kedua dari sudut pandang kenegaraan.

Perlu diketahui, mengutip tulisan dari Sholahudin Wahid, bahwa Gus Sholah menyebutkan NU memerlukan waktu hampir 40 tahun untuk menyadari bahwa Pancasila dan Islam bukanlah sesuatu yang bertentangan, tetapi berkesesuaian. Pada 1945 NU yang tergabung dalam Partai Masyumi memperjuangkan Islam sebagai dasar negara, tetapi gagal. Piagam Jakarta yang merupakan kompromi (22 Juni 1945) akhirnya juga terpaksa dibatalkan (18 Agustus 1945). Setelah Munas Alim Ulama NU pada 1983 menyetujui Dokumen Hubungan Islam dan Pancasila, NU menyatakan NKRI berdasar Pancasila bentuk final, sama dengan TNI dan sejumlah partai kebangsaan. Artinya menurut penulis, awalnya pun NU menganggap bahwa Pancasila adalah sebuah dasar negara dimana Islam harus ditegakkan sebagai aturan syariat. Pancasila yang dipahami secara berbeda dengan Pancasila yang dipahami kaum pluralis sekarang ini kendatipun KH. Hasyim Asyari menolak konsep Khilafah ketika itu.

Lima hal yang penulis ajukan dalam ‘menelanjangi’ pernyataan kyai Samsul Hadi di atas kiranya cukup memberikan wacana agar kyai Samsul Hadi berintrospeksi atas kesalahnnya dalam berpikir dan menggunakan logika akal serta bisa lebih konsisten dalam bersikap. Lebih dari itu, penulis menduga bahwa sikap Anti – Pancasila yang diusung dan diyakini oleh KH. Achmad Munib bisa jadi dipicu ajaran Al Quran bahwa semua aturan atau hukum yang dibuat oleh manusia dengan meniadakan serta meninggalkan hukum-hukum Allah SWT akan tergolong sebagai seorang yang Kafir, Munafik, atau Fasik sebagaimana dapat dibaca di dalam surat al Baqarah. Adapun mengenai apa dan seperti apa Pancasila, maka tulisan mengenai hal itu telah panjang lebar ditulis dalam sebuah artikel berjudul: Kesaktian Pancasila, Makna dan Simbologi di Baliknya (klik di sini). Dan yang lebih penting saat ini, “Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam” tulis Adian Husaini.

Ahmed Fikreatif

Perintah Jihad bagi Kaum Muslimin

•12/01/2010 • Leave a Comment

Kehadiran dan keberadaan kaum Muslim ditengah kehidupan Manusia dibumi bukanlah sebagai bunga hiasan, yang setelah masa mekarnya usai kemudian layu, lantas musnah. Tidak lebih dari sekadar proses menunggu giliran untuk mati. Tetapi, mereka diutus sebagai manusia terbaik untuk menegakkan kebenaran,  dipundaknya terdapat beban berat dan tugas besar serta mulia, yang sekaligus sebagai tugas utamanya, yaitu menegakkan dienullah (Agama Allah) secara bersama-sama mengikuti metode kenabian,bukan mengikuti ijtihad peribadi atau kelompok. Maklumat ini dengan jelas dapat dibaca dalam ayat berikut:

“… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” (QS. Asy Syura 42:13)

Sementara, untuk merealisasikan tugas utama itu, selain dengan iman yang benar (mantap) dan ilmu yang mendalam(luas), kekuatan persenjataan tangguh dan dana yang mencukupi, hal yang paling dibutuhkan sebagai syarat penentu adalah keberanian untuk mengatakan kepada yang benar itu adalah benar,dan mengatakan kepada yang batil itu batil dan berjihad menegakkan kebenaran. Tanpa adanya keberanian mengangkat senjata menghalau segala perintang agama Allah, maka sulit dibayangkan dapat meraih kejayaan tegaknya syari’ah Allah dan khilafatul Muslimin hanya dengan dakwah dan tabligh saja. Adalah Rasulullah Saw memulai risalahnya dengan dakwah kepada tauhidullah dan mengakhirinya dengan jihad bil Qital.

Karena itulah, Rasulullah saw begitu bersungguh-sungguh mendidik umatnya untuk menyeimbangkan antara Dakwah dan Jihad. Penyeimbangan antara kedua pilar tegaknya Islam ini begitu kental terlihat dari perjalanan hidup beliau. Da’wah bil Qur’an teraplikasi benar tatkala beliau masih di Makkah, sedangkan Da’wah bis Saif dimulai, bahkan dilakukan sedemikian intensif semenjak beliau bermukim Madinah. Sebagai bukti, selama 10 tahun di Madinah, tak kurang dari 68 peperangan telah beliau pimpin langsung dan puluhan lain dengan pengiriman ekspedisi (perutusan). Inilah fakta historis betapa untuk menegakkan Islam, kaum Muslimin tidak akan pernah dapat memisahkan misi perjuangannya dengan jihad bis Saif.

Selain itu, kebutuhan akan jihad juga merupakan tabiat Agama Allah, bahwa Islam tidak pernah tegak melainkan dengan dua hal yaitu dengan kitab dan besi. Realitas ini segera kelihatan dengan mentadabbur firman Allah swt:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid, 57:25)

Al Imam Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat tersebut melalui beberapa perspektif,beliau berkata:

Pertama, “Dan sekali-kali tidak akan tegak Dien ini kecuali dengan kitab, mizan (timbangan) dan besi. Kitab sebagai petunjuk dan besi sebagai pembela. Sebagaimana firman Allah, ‘Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami…’. Maka dengan kitab akan tegak ilmu dan dien, sedangkan dengan mizan (neraca) akan tegak hak-hak dan transaksi serta serah terima keuangan, dan dengan besi akan tegak hukum hudud.” (Majmu’ Fatawa XXXV/361)

Kedua, “Dan pedang-pedang kaum muslimin sebagai pembela syari’at ini yang berupa al Kitab dan as Sunnah” sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir bin Abdullah, ‘Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk memukul dengan ini, yaitu pedang, orang-orang yang keluar dari ini, yaitu al Qur’an.’” (Majmu’ Fatawa XXV/365)

Ketiga, Sesungguhnya tegaknya dien itu dengan kitab yang menjadi petunjuk dan besi yang menjadi pembela, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah. (Majmu’ Fatawa XXVIII/396, dan lihat Tafsir Ibnu Katsier serta Tafsir al Azhar)

Itulah nash Qur’ani menjelaskan tentang semangat keberanian berjihaqd dengan besi,berikut berdasarkan ucapan beliau:

Dari Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah ta’ala sajalah yang diibadahi dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan tombakku dan dijadikan hina serta rendah atas orang yang menyelisihi perintahku, dan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad no: 4869, 5409)

Adapun orang-orang yang menyangka bahwa kehidupan jihad hanya semata-mata memerangi suatu kaum, atau pergulatan demi mempertahankan hidup atau mengusir musuh yang menguasai sejengkal tanah, maka mereka dapat dipastikan belum memahami tabiat agama ini. Karena sesungguhnya jihad merupakan tugas wajib yang tergantung di leher setiap Muslim. Tidak ada jalan menghindar dari kewajiban ini, terlebih untuk masa sekarang dimana keberanian berjihad mutlak di butuhkan. Bahkan, kewajiban jihad lebih didahulukan atas shalat dan puasa sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyyah:

“Tiada sesuatu yang lebih wajib hukumnya setelah iman kepada Allah daripada menolak musuh yang menyerang kehormatan dan agama.” (Majmuu’ al Fatawaa, Ibnu Taimiyyah juz 4, hal. 184)

Artinya, jihad itu didahulukan atas shalat, puasa, zakat dan haji serta kewajiban-kewajiban yang lainnya. Jika berbenturan antara kewajiban jihad dan haji, maka hendaklah kewajiban jihad didahulukan. Apabila kewajiban jihad dan shalat berbenturan; maka kewajiban shalat ditangguhkan sebentar, atau diqashar, atau dipersingkat, atau berubah bentuk dan keadaannya demi menyesuaikan dengan jihad. Karena menghentikan jihad sejenak, sama dengan menghentikan gerak laju Agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Jihad merupakan perkara yang sangat penting, karena itu setiap diri dari kita harus menjadi pelopor-pelopor kaum muslimin dan sekaligus perwira ummat ini. Kita adalah perintis kebangkitan di negeri dan wilayah dimana kaki kita dipijakkan. Kita juga laksana detonator (sumbu api) yang siap meledakkan meriam-meriam perjuangan. Sesungguhnya explosive (bahan peledak) yang tidak bekerja (non aktif) membutuhkan detonator. Dan kalian adalah detonator-detonator itu dengan izin Allah. Beribu-ribu ton bahan explosive tanpa ada detonator yang kecil ini tidak akan berarti apa pun, tidak akan bernilai, laksana sayap nyamuk yang begitu kecil tetapi membawa manfaat yang besar bagi si nyamuk. Oleh karena itu, janganlah anda berputus asa atau merasa gentar, apalagi kecewa dalam mngemban tugas yang maha berat ini.

Allah swt berfirman:

“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf, 12: 87)

Antum adalah rijal (lelaki sejati) pilihan Allah. Maka pancangkanlah di hadapan antum bahwa jihad adalah risalah, misi dan kewajiban hidup sampai antum  bertemu dengan Allah ‘Azza wa Jalla kelak. Seluruh kaum Muslimin di muka bumi ini akan terbeban dosa selama masih terdapat sejengkal bumi Islam yang berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir. Dan setiap Muslim akan dihisab (diminta pertanggung-jawabannya) tentang negeri Andalusia (Spanyol), akan dihisab tentang jatuhnya Afghanistan dan negeri Asia Tengah yang lainnya seperti Palestina, Philipina, Turki dan negara-negara Islam yang berada dibawah cengkeraman musuh. Dan anda tak akan dapat lari dari pertanggung jawaban membela ummat Islam yang sedang teraniaya dan dizalimi oleh kaum kuffar di negara antum sendiri sekarang ini yaitu Indonesia. Apakah antum menanti datangnya bantuan para mujahidin dari luar sedang anda tengah berpangku tangan membiarkan merajalelanya kezaliman konspirasi Kristen dan Yahudi internasional untuk memusnahkan Islam dan ummatnya? Mengapa antum tidak bangkit mempertahankan kehormatan kaum Muslimin serta membela dan melindungi golongan mustadh’afin?

Firman Allah:

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!.(Qs. An Nisaa’, 4: 75)

Sesungguhnya jihad tidak mungkin akan tegak kecuali memenuhi dua syarat yang asas dan pokok. Pertama, sabar yang membuahkan keberanian jitu, terpahat dalam hati dan diikuti oleh seluruh anggota badan. Kedua, dermawan yaitu kesiapan mengorbankan hal yang paling berharga dari diri kita, yaitu jiwa raga, keluarga dan harta.

Kedua syarat tersebut hampir hilang dari kehidupan ummat Islam hari ini, karena tergeser oleh sifat pengecut dan rasa takut. Sementara itu, kehebatan dan ketinggian martabatnya telah tercabut dari hati-hati musuhnya. Keadaan mereka tidak lebih bernilai dari buih di atas banjir besar, tiada nilai dan kualitas. Rasulullah bersabda:

“Hampir semua ummat mengerumuni kamu dari seluruh penjuru, sebagaimana makanan di atas pinggan (piring). Seorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah karena jumlah kami yang sedikit pada waktu itu?” Beliau menjawab, “Tidak! (bahkan jumlah kamu banyak), tetapi kamu bagaikan buih, sebagaimana buih di atas air bah. Ia jadikan Wahn di dalam hati kamu, dan dicabut rasa takut pada musuh kamu, karena kamu cinta dunia dan takut mati”. Dalam riwayat lain, mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Beliau menjawab, “Cintamu terhadap dunia, dan bencimu kepada perang.” (HR Abu Dawud no. 3745; Ahmad no. 8356, 21363)

Terlalu cinta kepada kehidupan dunia dan takut berjihad adalah puncak tragedi kebinasaan ummat Islam sepanjang masa. Dan kehinaan itu tidak akan hilang sehingga ummat Islam kembali kepada ajaran jihad yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau bersabda:

“Bila kamu berjual?beli dengan ‘inah (dengan cara riba dan penipuan), mengikuti ekor?ekor sapi, menyukai bercocok tanam, dan kamu meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan ke atas kamu yang tidak akan dicabut sehingga kamu kembali kepada agamamu.” (HR Ahmad no: 4765, 5304; Abu Dawud 3003, Lihat Nailul Authar, 5/318; dan Silsilah al Ahaadits ash Shahihah, al?Albani – no: 10, 11).

Wahai para pejuang Islam di seluruh belahan bumi Allah, semut-semut akan melaknat anda karena enggan berangkat jihad. Dan ikan di laut hanya memintakan ampunan bagi mereka yang mau berjihad saja. Sebab mereka lah yang mengajarkan kebajikan kepada manusia, serta menjaga dan melindungi kebajikan itu dengan pedang, ruh dan darah mereka. Maukah anda sekiranya seluruh makhluq yang ada di daratan dan lautan melaknat anda karena lari dari tugas murni ini?

Firman Allah swt:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (Qs. Al Baqarah, 2: 159)

Bebaskanlah diri anda dari segala belenggu nafsu yang mengajak kepada kejahatan atau dunia beserta kenikmatannya yang sementara, melambai-lambai tangan merayu agar antum mundur dari jalan ini. Bersihkanlah hati dan niat dari segala keterikatan di muka bumi ini. Sayyid Quthb dan Abul Hasan Ali an Nadwi mengatakan tentang orang-orang Salaf, tentang orang-orang pilihan, tentang generasi sahabat yang mulia, generasi yang unik, melalui kata-katanya: “Tatkala jiwa mereka telah bersih dari segala keterikatan, dan Allah mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai keinginan di permukaan bumi ini, hingga agama ini menang di tangan mereka, namun jiwa mereka tetap tidak pernah kembali bergantung ke atas kemenangan tersebut. Tatkala Allah mengetahui semua ini dari mereka, maka tahulah Dia bahwa mereka telah siap dipercaya mengemban Syari’ah Nya. Lalu Allah pun menjadikan mereka sebagai penguasa di atas bumi dan mengokohkan Dien mereka yang telah diridhai-Nya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:

“Sesungguhnya telah Kami tulis di dalam Zabur (kitab-kitab yang Kami turunkan) sudah tercantum (pada lauhul Mahfudz) bahwasanya, bumi ini akan turun diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.” (Qs. Al Anbiyaa’, 21: 105)

Ingatlah, bahwa sekiranya kita mendapatkan kemenangan karena berjihad pada jalan-Nya, maka Allah akan mengurniakan pahala-Nya yang berlipat ganda sedang kita tidak akan dirugikan walau seberat zarah pun. Dan seandainya kita belum menemui kemenangan, Allah tetap akan memelihara agama-Nya sehingga datangnya kiamat, sedang kita tetap mendapat karunia-Nya dan tidak akan dirugikan. Hanyalah tugas kita untuk tetap sabar dan istiqomah di jalan Jihad sehingga hanya datang dua ketentuan yaitu kita syahid karenanya atau menang dalam kemuliaan. Setiap langkah kaki kita di dunia akan menjadikan neraca timbangan di akhirat terangkat, maka sesungguhnya pahala itu akan diletakkan di neraca timbangan akhirat.

Pena yang menguntai kata membentuk bahasa untuk menyeru manusia kembali kepada al-Haq pasti akan terus mengalir pahalanya. Seruan dari lisan para da’i yang tak henti-hentinya menyampaikan da’wah juga pasti akan mendapat balasan yang berlipat ganda.

Dan kepada para alim ulama khususnya, marilah bersama merenungkan hadits ini, yang selanjutnya tampil menjadi pembawa obor dan cahaya kebenaran bagi segenap lapisan masyarakat dan memimpin para mujahidin berperang di medan laga sehingga memperoleh salah satu di antara dua, hidup mulia di bawah naungan Syari’ah Allah atau syahid di jalan-Nya.

Ibnu Abbas Ra. berkata, bahwa Rasulullah bersabda:

“Sedekat-dekat manusia dengan derajat kenabian ialah Ahli Ilmu dan Ahli Jihad. Adapun Ahli Ilmu mereka menunjukkan kepada manusia atas apa yang dibawa oleh para Rasul dan adapun Ahli Jihad mereka berjihad dengan pedang-pedang mereka atas apa yang dibawa oleh para Rasul.” (HR Abu Na’im. Ihyaa’ ‘Ulumuddin 1/16).

Inilah Imam an Nawawi, seorang ulama dan mujahid yang unggul. Beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya di negeri Syam. Namun demikian beliau tidak pernah memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang-orang menanyakan kepadanya: “Mengapa Tuan tidak makan buah-buahan negeri Syam?” Maka beliau menjawab: “Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang. Maka saya khawatir makan buah-buahan dari kebun-kebun itu.”

Oleh karena itu, hati mereka bagaikan hati singa dan jiwa mereka laksana jiwa pendeta. Mereka laksana pendeta di malam hari dan bagaikan ksatria berkuda di siang hari. Mereka tak sudi berhenti di depan rintangan. Halangan dan rintangan yang bagaimana pun tingginya dan bagaimana pun sukarnya akan mereka terobos dan mereka lompati.

Tatkala tentara Tartar menyerbu negeri Syam, Zhahir Bebres berkata: “Saya menghendaki fatwa dari kalian wahai para ulama agar saya dapat menghimpun dana untuk membeli senjata guna menghadapi serangan bangsa Tartar. Maka seluruh ulama memberikan fatwa seperti yang diminta oleh Zhahir Bebres kecuali seorang. Dia adalah Muhyiddin an Nawawi. Zhahir bertanya: “Mana tanda tangan Nawawi?” Mereka menjawab: “Dia menolak memberikan tanda tangan…”

Lalu Zhahir mengutus seorang untuk menjemputnya. Setelah Imam Nawawi datang, Zhahir bertanya: “Kenapa anda mencegah saya mengumpulkan dana untuk mengusir serangan musuh. Serangan orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin?” Imam Nawawi menjawab: “Ketahuilah, dahulu engkau datang pada kami hanya sebagai budak. Dan sekarang saya melihatmu mempunyai banyak istana, pelayan lelaki dan wanita, emas, tanah, dan perkebunan. Jika semua itu telah engkau jual untuk membeli senjata, kemudia sesudahnya engkau masih memerlukan dana untuk mempersiapkan pasukan Muslimin, maka saya akan memberikan fatwa kepadamu…”

Zhahir Bebres amat marah mendengar ucapan Imam Nawawi, maka dia berkata: “Keluarlah engkau dari negeri Syam.” Lalu beliau keluar dari Syam dan menetap di rumahnya yang asli di desa Nawa. Pengusiran Imam Nawawi menimbulkan kemarahan para ulama, mereka datang menemui Zhahir Bebres dan berkata: “Kami tak mampu hidup tanpa kehadiran Imam Nawawi.”

Maka Zhahir pun mengatakan: “Kembalikanlah dia ke Syam.” Selanjutnya mereka pergi ke Nawa untuk membawa balik Imam Nawawi ke Syam. Akan tetapi Imam Nawawi menolak ajakan mereka seraya mengatakan: “Demi Allah, saya tidak akan masuk negeri Syam selama Zhahir Bebres masih ada di sana.” Akhirnya Allah memperkenankan sumpahnya, Zhahir mati sebulan sesudah beliau mengucapkan sumpah. Maka kembalilah Imam Nawawi ke negeri Syam. Semoga Allah merahmatinya karena keikhlasannya dan keberaniannya. (Syarah Arba’in: Imam An Nawawi)

Wallahu’alam bish showab…