Menjaga kelestarian dien

Mukaddimah

Salah satu ta’rif “Islam” berasal dari kata salima, dapat ditemui dalam Al Qur’an surat An Nisa’ :65, yang artinya adalah menyelamatkan, mensejahterakan, sebagai bentuk masdar maka perlu obyek ; apa yang diselamatkan. Menurut ahli fiqih Sayyid Sabiq berpendapat bahwa obyek basic yang diselamatkan itu tertuang dalam ketentuan Syar’i meliputi 5 hal, yaitu selamat (1) agama (dien) (2) jiwa (nafs) (3) akal (aql) (4) keturunan (nasl), dan (5) harta ( mal).

Agama (  ad dien ) adalah risalah yang dibaw a Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir bersuber dari AL Qur’an dan sunnah sahihah berupa perintah dan larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Sebagai dien yang terakhir, Islam mengatur segala hal ikhwal dengan sempurna ( Al Maidah : 3).

Islam adalah agam tauhid, yang memberi nama adalah Allah sendiri, memberikan nikmat kepada pemeluknya dan dijamin kebenarannya oleh Allah (al Baqarah: 138), serta memberikan kebebasan untu beriman atau mengingkarinya (al Kahfi :29). Tetapi bagi orang yang beriman membela agama Allah adalah di atas segalanya sebagaimana ditunjukkan oleh sahabat nabi bernama Abu Bushair bin Ubaid yang karena perjanjian Hudaibiyah harus dikembalikan ke tangan  qurays Mekah. Namun karena keteguhan agamanya dan tidak rela menyerahkan dirinya untuk dizhalimi maka Abu Bushair bin Ubaid memilih mengadakan perlawanan hingga datang surat rasulullah membolehkan kemana dia mau kembali, keadaannya sakit keras, keinginan untuk bersama Rasulullah belumm kesampaian sehingga dia meninggal dengan masih menggegam surat Rasulullah ( Moh.Ghozali, dlm Fiqhus Sirah,1985: 566)

Implementasinya dalam Syar’i

Seorang mukmin ahrus selalu menjaga agamanya (khifdzud dien)

1.  Larangan berbuat syirik

Berbuat syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni, sejak dini anak harus dididik untuk mengenal tauhid. Seperti nasihat Luqman pada anaknya, surat Luqman : 13 ;:

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan          (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

2. Larangan murtad

Murtad adalah berganti agam, yang semula Islam kemudia berganti yang lain. Orang ini yang semuala suci, mulia, terhormat tetapi kemudian melarikan diri dari keadaan tersebut. Dalam hadits shahih Rasulullaah bersabda : “man baddala diinahu faqtuluhu” ( barang siapa berganti agama, bunuhlah dia).

3. Larangan mendatangi dan mempercayai dukun

Hadits Nabi saw dari Shofiyah binti Abu Ubaid, dari salah seorang istri nabi, bahwa nabi saw berkata :” Siapa yang datang pada tukang tebak dan menanyakan sesuatu lalu dipercayainya, maka tidak diterima sholatnya 40 hari “

4. Larangan menikahi wanita musyrik

Nikah harus didasari dengan taqwa kepada Allah (an Nisa’: 1), nabi saw bersabda : “Taqwalah kepada Allah perihal perempuan, sesungguhnya kamu ambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan mereka dengan kalimat Allah”,. Perkawinan yang berdasarkan taqwa tdak mungkin dilaksankan jika tidak beriman, oleh karena itu Allah mengharamkan menikahi perempuan musrik kecuali jika telah beriman, di dalam surat al Baqarah 221,  Allah SWT berfirman :

221. dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

5. Larangan saling mewarisi

Memutus hubungan nasab adalah haram dalam Islam dan termasuk dosa besar, sebagaimana  disebutkan dalam Nabi saw dar Sa’ad bin Abi Waqosh : Siapa mengaku nasab selain ayahnya, padahal mengetahui baahwa itu bukan ayahnya, maka haram masuk sorga “.

Hubungan waris mewarisi menjadi terputus jika antara ahi waris berbeda agama, sabda nabi saw : ” Orang Islam tidak daat mewarisi harta oarng kafir dan orang kafirpun tidak dapat mewarisi orang (Islam).

6. Larangan berteman karib dengan orang kafir

Lingkungan bergaul sangat berpengaruh kepada jiwa, kehidupan seseorang, bergaul dengan orang kafir (dzimmi) diperbolehkan tetapi untuk menjadikan mereka sudara karib (bithonah) Allah melarangnya, sebagimana firmanNya surat Ali Imron : 118 :

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Rasulullah saw memperingatkan : “laki-laki cenderung pada agama temannya, maka perhatikanlah dengan siapa mereka berteman karib”

Implementasi dalam pergaulan

Seorang mukmin boleh bergaul dengan orang kafir (dzimmi), tetapi demi kemuliaan orang mukmin maka pergaulan itu harus dibatasi, anatra lain dalam hal-2 berikut :

1. Tidak memberi ucapan salam

Meski mendahului memberi salam itu adlah perbuatanutama, tetapi kepada orang kafir dilarang mendahului dan jika mereka memberi salam cukup dijawab dengan : “wa’alaikum”, tidak lebih.

Ketika Nabi saw berkirim surat kepada raja Romawi Heraklius untuk menyeru agar masuk Islam, diawali dengan ucapan :” Assalamu’alaikum ya manittaba’al huda..”(salam sejahtera bagi orang yang mendapat petunjuk).

2.  Tidak makan hewan sembelihannya

Di dalam Al Qur’an Al An’am 121 Allah berfirman :

121. dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya[501]. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan

kepada  kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.

3.  Tidak melakukan tashabuh dan mudahanah

Islam adalah agama yang lurus dan tidak boleh mengambil jalan-2 yang lain agar umat Islam tidak tercerai berai (Al An’am: 153), dalam hal ini nabi saw melarang orang Islam meniru-niru orang kafir (tashabuh) dan bersikap lunak (mudahanah). Rasulullah saw bersabda : ” Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”

……………………………….Wallohul muwaffiq.





~ by islamthetruth on 26/12/2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: