Siapa teroris, siapa khawarij

Islam Radikal(?) dan Salafi


(left to right) Abdul Moqsith Ghozali – Jafar Umar Thalib – Nasir Abas

Dalam sebuah acara Todays Dialogue di MetroTV, 2 September 2008, memunculkan dialog berjudul “Islam Radikal Mau Kemana?”. Acara dialog itu sendiri diadakan dengan menghadirkan tiga Pembicara; Ustad Ja’far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad (LJ); Abdul Moqsith Ghozali, salah tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Nasir Abas, orang Malaysia yang dikenal sebagai mantan Anggota Jamaah Islamiah (JI) dan dianggap “berkhianat” oleh teman seperjuangannya.

Sebenarnya, seperti yang dituturkan oleh Meutia Hafidh selaku pembawa acara, pihak MetroTV ingin mengundang pula wakil dari Majelis Mujahidin (MMI) dan Forum Ummat Islam (FUI), namun keduanya tidak bersedia hadir.

Tema diskusi sebenarnya banyak menyoroti fenomena gerakan Islam MMI yang dianggap radikal, teristimewa terhadap kasus keluarnya Ustadz Abubukar Baasyir dari pucuk pimpinan MMI. Karena pihak MMI tidak hadir, tema jadi sedikit bergeser, menjadi lebih luas yaitu gerakan-gerakan Islam yang dianggap radikal (keras). Selain MMI, adapula FPI, FUI dan mungkin pula termasuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dianggap sebagai gerakan Islam radikal. Kalau dari pihak narasumber, bisa dibilang Abdul Moqsith dan Nasir Abas mewakili pihak yang berseberangan dengan gerakan-gerakan Islam. Yang oleh media selalu dikonotasikan dengan “radikal”. Karena yang pertama merupakan tokoh JIL, satunya mantan JI dan satu lagi, manta pendiri Laskar Jihad. Bisa dibaca, TV berharap, mereka dari sudut pandang berbeda dan yang penting “siap diadu”. Tapi, nampaknya TV tak mendapatkan harapannya. Sebab, keberadaan Ja’far Umar Thalib, meski mantan LJ, ke mana-mana membawa pedang, bersorban dan berjanggut, tapi dalam diskusi tak menunjukkan sikap “radikal” yang diharapkan TV. Sebab sebaliknya, dalam berbagai statemennya, dia justru menyerang ‘teman seiring’ lebih keras dibanding oleh dua narasumber lainnya. Sangat aneh!.

Ketika Ja’far ditanya tentang kelompok-kelompok “Islam Radikal” yang ingin berjuang menegakkan syariat Islam atau negara Islam, Ja’far bahkan mengatakan, kelompok-kelompok itu harus diberangus sampai ke akar-akarnya. Sampai-sampai Meutia Hafidh, sang pembawa acara bertanya keheranan, “Harus diberangus?” Bahkan para audience yang hadir dalam dialog tersebut seketika tertawa, karena tidak percaya mendengar statemen dari seorang ustadz salafi. Ja’far mengklaim bahwa dulu Khalifah Ali bin Abi Thalib memberangus kaum Khawarij (pembangkang yang suka menumpahkan darah umat Islam). Ja’far juga mengatakan kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam sebagai Ahlul Bughot (pemberontak) karena itu wajib diberangus sampai ke akar-akarnya.

Saya heran betul dengan pola pikir sebagian (saya harus menegaskan tidak semua salafi berpola pikir seperti ini) kaum yang mengaku salafiyyin ini, mereka sangat antipati terhadap setiap gerakan Islam di luar kelompoknya. Walaupun usaha-usaha ingin menegakkan syariat Islam dilakukan dengan cara-cara yang persuasif, baik melalui jalan dakwah, tarbiyah, slogan-slogan, demonstrasi, maupun melalui mekanisme politik, kaum salafi semodel Jafar Thalib, dan sebangsanya, mereka tetap tidak lapang dada. Mereka akan merasa sumpek hatinya kalau ada upaya-upaya tokoh-tokoh Islam dan gerakan Islam terus menerus menyuarakan perjuangannya. Karena bagi kelompok salafi model ini, setiap perjuangan penegakan syariat Islam adalah ciri-ciri kaum Khawarij, dan kalau sudah dituduh Khawarij itu harus diwaspadai seluruh gerak-geriknya bahkan perlu diberantas sampai ke akar-akarnya.

Bagi kaum salafi ini, kedudukan pemerintah adalah identik dengan Ulil Amri. Setiap bentuk kritik, koreksi, bahkan walau sekedar bentuk demonstrasi terhadap penguasa adalah ciri-ciri Khawarij, walau kritik itu masih dalam bingkai yang wajar dan tidak melakukan pemaksaan kehendak dsb.Walau pula konstitusi negara mengakomodir adanya perbedaan partai politik, asas partai politik, ideologi politik, kebebasan berpendapat dsb, namun kelompok ini tidak. Pokoknya, tidak sami’na waato’na terhadap penguasa berarti khawarij. Mestinya kaum salafi harus lebih rajin belajar sejarah Islam. Kalau yang buat ukuran adalah Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang merupakan kepemimpinan Islam yang telah menunaikan hak-hak Allah dengan benar, menjalankan syariat Islam dengan benar, berbuat adil buat rakyatnya dsb, memang tidak boleh bagi siapapun untuk memberontak. Andaikata ada perselisihan dengan khalifah, tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan apalagi pemberontakan, tetapi dengan dialog maupun musyawarah. Bagi yang membangkang bolehlah bisa disebut Khawarij dan perlu diperangi (itupun kalau mereka mengajak perang), karena kelompok ini telah durhaka kepada penguasa/pemerintah. Bahkan dalam sejarahnya, Khalifah Ali tidak pernah mengejar-ngejar kaum Khawarij sampai ke akar-akarnya.Yang tidak mengacungkan pedangnya tetap tidak diperangi, bahkan Khalifah Ali mengirim shahabatnya yang bernama Abdullah bin Abbas ra. yang bergelar “orang yang paling mengerti tafsir al-Qur’an” untuk berargumen dan berdebat dengan kaum Khawarij ini. Artinya, untuk menghadapi orang yang berakidah dan berpikiran Khawarij tetap dikedepankan semangat dialogis, namun kalau upaya ini tidak efektif, cukup dilemahkan saja sekedar tidak mengganggu pemerintah, namun seandainya mereka mengacungkan pedangnya barulah penguasa bertindak yang setimpal, inipun untuk sekelompok orang yang memang benar-benar berakidah Khawarij. Sangat berbeda masalahnya jika yang dituduh Khawarij ternyata bukan Khawarij. Ini fitnah keji.

Namun bagi salafi model ini, soal kepemimpinan mau islami atau tidak, mau adil ataupun dzalim, legitimate atau tidak, menipu rakyat atau tidak, yang penting pemimpin yang sah, maka siapapun yang tidak taat apalagi sampai memberontak, mengganggu dsb adalah khawarij. Titik.

Jika ukurannya begini, perlu dijelaskan, beranikah mengatakan bahwa Gubernur Muawiyah bin Abi Sufyan adalah Khawarij, karena terang-terangan membangkang kepada khalifah yang sah yaitu Ali bin Abi Thalib, bahkan melakukan peperangan yang amat dasyat yang dikenal dengan Perang Shiffin?

Beranikah Ja’far dan para ustadz salafi yang semodel dia mengatakan bahwa Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW adalah Khawarij karena beliaulah yang pertama-tama melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Yazid bin Muawiyah, yang dikenang sebagai peristiwa tragis, dibunuhnya cucu Rasulullah SAW tersebut di padang Karbala?.


Imam Husein dikepung oleh 4.000 pasukan Yazid

Tragedi Karbala terjadi karena Husain bin Ali melakukan pemberontakan terhadap penguasa yang ‘sah’ yang diwariskan oleh Muawiyah terhadap putranya, padahal itu menyalahi consensus. Di mana waktu itu Khalifah Muawiyah berjanji akan menyerahkan kekuasaan sepeninggalnya kepada ummat Islam,namun justru dilanggar sendiri dan diserahkan untuk anak dan keturunannya.

Penulis ingin mendengar langsung Ja’far menjelaskan ke ummat, apa tanggapan kalian terhadap pemberontakan yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair terhadap penguasa Bani Ummayyah, Abdul Malik bin Marwan dan gubernurnya yang terkenal haus darah, Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi.

Abdullah bin Zubair adalah anak Shahabat utama, Zubair bin Awwam ra, salah seorang shahabat Nabi yang dijamin masuk syurga dan ibu seorang mujahidah, Asma binti Abubakar ash shiddiq, yang bergelar pemilik dua ikat pinggang. Asma adalah putri Abubakar yang membantu Nabi dan ayahnya mensuplai makanan hingga beberapa hari ketika keduanya bersembunyi di gua Tsur dari kejaran kaum kafir Quraisy. Apakah Ja’far Umar Thalib akan menyebut Abdullah bin Zubair sebagai khawarij ?

Jangan lupa, di kalangan salafi, khawarij itu diidentikkan dengan teroris dan khawarij itu termasuk golongan ‘anjing-anjing neraka’. Kemudian bagaimana pula sikap para salafiyyun terhadap pemberontakan yang dipimpin oleh Abul Abbas As-Saffah yang berhasil membantai dan menggulingkan kekuasaan Bani Ummayyah dan menjadi Khalifah pertama dari Bani Abbasiyah?

Suka atau, tidak sepanjang perjalanan Daulah Bani Umayyah dipenuhi dengan pemberontakan demi pemberontakan, namun semuanya masih bisa dipatahkan oleh para penguasa Bani Ummayyah. Tetapi baru di tangan Abul Abbas pemberontakan mengalami kemenangan. Kalau yang kalah disebut pemberontak yang khawarij lalu bagaimana kalau menang dan berganti menjadi penguasa yang sah, apakah tetap khawarij atau jadi ulil amri yang wajib ditaati?

Kenapa salafiyin masih menaruh hormat pada dinasti Abbasiyah, padahal kekuasaannya diperoleh dengan pemberontakan bahkan pembantaian terhadap seluruh keluarga dinasti Ummayyah, sehingga banyak diantara keluarga Bani Umayyah yang kabur menyelamatkan diri ke Spanyol (Cordova) maupun ke dataran Afrika karena dikejar-kejar oleh penguasa yang baru. Atau bagaimana sikap para salafiyyin terhadap tabiin yang mulia, Said bin Jubair, murid Ibnu Abbas yang juga memberontak terhadap Bani Ummayyah? Apa beliau yang merupakan imam hadits yang terkenal juga seorang khawarij? Dan masih banyak pula pemberontakan yang dilakukan oleh ulama dan mujahid Islam terhadap penguasa yang dzalim baik di era Bani Umayyah maupun Bani Abbasiyah.

Dalam buku yang berjudul Mereka Adalah Teroris, Penerbit Qaulan Sadida Malang, Luqman Ba’abduh (teman seperguruan Ja’far Thalib, yang kini tinggal di Jember) menulis (lebih tepatnya menuduh) elemen-elemen dakwah Islam yang sedang berjuang menghadapi tirani penguasa, bahkan perjuangan menghadapi Yahudi di Palestina dimasukkan sebagai bagian dari khawarij dan teroris. Termasuk pula disitu tertulis nama-nama ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan Albana, Sayyid Quthub sebagai “teroris”, Abdullah Azzam, pejuang Islam di Afghanistan, termasuk pula tokoh-tokoh HAMAS Palestina seperti Syaikh Ahmad Yasin, Abdulaziz Ar- Rantisi dan sebagainya sebagai teroris Khawarij.

Penulis tak melihat ada penghormatan yang semestinya terhadap para ulama maupun mujahid selagi mereka bukan dari kelompoknya. Jadi kalau tiap hari ummat Islam di seluruh dunia mendoakan dan membantu perjuangan rakyat Palestina dari agresi Yahudi, kelompok salafi dengan mudah malah nyukurin para ‘teroris’. Betapa gembiranya kaum lain dengan pandangan agama yang aneh begini.

Keberadaan buku yang meresahkan seluruh komponen gerakan dakwah sebenarnya sudah dijawab dengan begitu lugasnya oleh Abduh Zulfidar Akaha dalam bukunya Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Penerbit Pustaka Al-Kautsar, 2006.

Namun rupanya ‘dagangan lama’ masih mau terus dipakai oleh Ja’far untuk memojokkan gerakan-gerakan Islam lainnya , bahkan statemen, perlu diberangus ke akar-akarnya, justru menjadi modal tambahan terhadap kelompok Islam phobia untuk memberangus gerakan-gerakan Islam.

Sudah merupakan sunnatullah, manusia akan berkelompok dengan sesama komunitasnya. Para ulama pasti akan berinteraksi dengan sesama komunitasnya, para mujahid juga akan mencari habitat yang sama. Para politisi juga akan mencari ‘rumah’ yang cocok dengan platform politik yang dicita-citakannya. Yang ingin memperjuangkan cita-cita Islam, mereka pasti akan memilih partai-partai berasas Islam atau minimal memperjuangkan aspirasi ummat Islam, dan bukannya pasif dan masa bodoh.

Adapula yang merasa sudah cukup berjuang di medan pendidikan, adapula yang lebih concern di bidang ekonomi yaitu dengan mengupayakan pengentasan kemiskinan di sekitarnya. Adapula yang sibuk membendung akidah ummat Islam dari pengaruh pemurtadan maupun aliran-aliran menyimpang. Orang-orang Islam memang harus sibuk. Orang-orang sekular juga akan terus ‘berjuang’ agar nilai-nilai Islam jangan sampai berperan di masyarakat dan pemerintahan.

Orang-orang Liberal seperti Ulil Abshar Abdalla juga bercita-cita agar liberal akan menjadi mazhab masa depan, untuk menggantikan mazhab fikih Islam yang sudah ada. Itulah dunia. Tempat di mana manusia berjuang dan bertarung untuk mewujudkan cita-citanya masing-masing, dan di akherat nanti manusia akan dibalas sesuai dengan amal dan cita-citanya. Yang tidak bercita-cita apapun kecuali sekedar mengenyangkan isi perutnya juga akan dibalas sesuai dengan perbuatannya. Yang sejalan dengan perintah Allah akan dijanjikan syurga dan yang menjegal di jalan Allah akan dibalas di neraka.

Jadi kalaulah ada pihak-pihak yang bercita-cita menghalangi perjuangan dakwah dan politik Islam seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Nasrani, liberal dan sekular itu adalah hal yang wajar. Bahkan buat ummat Islam, itu merupakan ujian yang harus dilaluinya. Namun jika yang menghalangi adalah seorang yang merasa dirinya ustadz, berjanggut panjang dan memakai gamis, saya menyebutnya sebagai musibah.

Untuk itulah tulisan pendek kami hadirkan sebagai sarana untuk mengingatkan, watawa shoibil haqqi watawa saubissobr, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Tidak ada maksud kami untuk saling mendengki sesama ummat Islam. Marilah kita sama-sama menyibukkan diri mengungkap aib dan kekurangan diri masing-masing dibanding sibuk mencela aib dan kekurangan orang lain. “Ya Allah ampunilah diri kami dan para pendahulu kami, ampunilah saudara-saudara kami yang sedang menggapai dan menolong agamamu ini dari makar para musuh-musuh Islam.” (hidayatullah)

~ by islamthetruth on 10/01/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: