Pemerintah Arab Saudi terkena penyakit wahn?

Arab Saudi Konspirator Gembosi Pertemuan di Doha

ImageAgresi rezim Zionis ke Jalur Gaza telah berlangsung tiga minggu dan kini memasuki pekannya yang keempat namun belum ada tanda-tanda tindakan konkret dari dunia Arab dan Islam  untuk memaksa Israel menghentikan aksi beringasnya. Banyak yang menyebut krisis di Gaza sebagai sebuah kosnpirasi internasional terhadap perjuangan moqawamah bangsa Palestina di Gaza dengan Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) yang menjadi simbolnya.  Sebut saja sebagai contoh, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Republik Islam Iran, Hassan Qashqavi  menilai agresi berdarah ke Jalur Gaza sebagai konspirasi internasional dan tindaklanjut dari konferensi Annapolis yang berlangsung di Amerika Serikat.

Atau juga Juru Bicara HAMAS, Fauzi Barhum yang mengkonfirmasikan bahwa pihak internasional terlibat konspirasi dengan Rezim Zionis Israel dalam kejahatannya di Gaza. Ditandaskannya, konspirasi internasional dan kebijakan ganda terhadap kejahatan tersebut telah membulatkan tekad untuk melanjutkan resistensi dalam membela bangsa Palestina.

Tentang siapakah yang melakukan konspirasi tersebut dan apa tujuannya, bagi banyak orang sudah bukan rahasia lagi. Persatuan Pengacara Arab dalam sebuah statemennya menuding Arab Saudi dan Mesir membantu seluruh konspirasi Amerika dan Israel di Timur Tengah. Salah satu buktinya adalah penolakan Mesir dan Arab Saudi untuk hadir dalam sidang khusus Liga Arab di Doha, Qatar. Demikian dikatakan Deputi Sekjen Persatuan Pengacara Arab, Abdul Aziz Al Magribi. Sebagai dua negara Arab yang cukup diperhitungkan, penolakan Mesir dan Arab Saudi itu dapat memengaruhi negara-negara Arab lainnya yang masih mengagungkan keduanya untuk ikut bersikap pasif memandang isu Gaza.

Masyarakat dunia, khususnya di Dunia Arab dan Islam sangat kecewa terhadap kepasifan dalam menyikapi krisis Gaza. Kekecewaan memang nampak, bukan hanya di kalangan masyarakat umum tetapi sejumlah pemimpin dunia Arab juga tak mampu menahan kegeraman. Presiden Suriah Bashar Assad dalam sebuah jumpa pers mengritik keras sikap para pemimpin Arab yang tidak bersedia menggelar pertemuan tingkat pemimpin Arab untuk krisis Gaza. Assad mengatakan, “Jika kita mampu menggelar KTT Arab untuk berbicara soal ekonomi di Kuwait, mengapa kita tak dapat menggelar KTT Arab untuk kasus Gaza?”

Assad menambahkan, “Jika kita tak mampu menggelar sidang dengan kehadiran seluruh pemimpin Arab, maka kita bisa menggelar KTT dengan jumlah berapa pun yang hadir.”

Gayungpun bersambut. Emir Qatar yang negaranya menjadi tuan rumah sekretariat Liga Arab mengundang para pemimpin Arab untuk menggelar KTT di Doha. Di sini konspirasi kembali menunjukkan bentuknya. Presiden Mesir yang menjadi Aktor utama segera terbang menemui aktor kedua, Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Pembicaraan keduanya menghasilkan statemen bersama untuk tidak hadir di pertemuan tingkat tinggi Doha. Menurut mereka, masalah Gaza bisa dibicarakan di sela-sela pertemuan KTT Kuwait.

Arab Saudi tiba-tiba mengajak negara-negara Arab Teluk Persia untuk menggelar sidang tingkat tinggi di Riyadh membahas krisis Gaza. Ajakan Arab Saudi dibaca oleh banyak pengamat sebagai upaya para konspirator terhadap Gaza untuk menggembosi pertemuan di Doha. Apalagi, pertemuan KTT Teluk Persia yang diprakarsai Raja Abdullah digelar sehari sebelum KTT Liga Arab di Doha yang digelar hari Jum’at 16 Januari. Pertemuan di Riyadh pun digelar tanpa greget. Media massa dan masyarakat umum di dunia Arab dan Islam juga tak menaruh minat terhadapnya.

Di Doha, sejumlah pemimpin Arab semisal Emir Qatar sebagai tuan rumah, Presiden Suriah, Presiden Sudan, Presiden Lebanon, Presiden Muritania, Presiden Kepulauan Komoro, Wakil Presiden Irak, Perdana Menteri Libya dan beberapa utusan Negara Arab hadir dalam pertemuan itu. KTT juga dihadiri oleh sejumlah undangan khusus termasuk Kepala Biro Politik HAMAS Khaled Meshal, Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad, utusan dari Turki, Indonesia, Ketua OKI, para tokoh gerakan perjuangan Palestina dan sejumlah hadirin lainnya. KTT digelar sementara dunia Arab dan Islam berharap KTT ini akan membuahkan hasil kongkret untuk membantu warga Gaza keluar kesulitan yang ada.

Bagaimana dengan para konspirator setelah ganjalan yang mereka tebar tak mampu menggagalkan KTT? Dua hari sebelum KTT digelar, Sekjen Liga Arab Amr Moussa yang mantan Menteri Luar Negeri Mesir dalam sebuah pernyataannya di depan para wartawan mengatakan bahwa KTT Doha tidak berhasil mencapai kuorum karena pemimpin Arab yang siap hadir tidak banyak. Media pro konspirator dan media-media Barat pun memfokuskan pemberitaan pada kecilnya jumlah hadirin pada KTT Doha. Sekjen Liga Arab didesak untuk tidak pergi ke Doha menghadiri KTT. Tujuannya adalah agar keabsahan KTT tersebut tergembosi.

Naif. Tapi inilah yang terjadi. Hal itu pulalah yang diungkap oleh Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifah Aali Thani dalam kata pembukaan KTT. “Andai saja saudara-saudara kita para pemimpin Arab yang lain ikut hadir pada pertemuan ini. Andai saja Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas Abu Mazin mau menghadiri pertemuan yang digelar demi nasib rakyatnya. Andai saja mereka bersedia menghadiri pertemuan ini meski mengemukakan pendapat yang berbeda.” Kata-kata itu terucap diikuti dengan penggalan-penggalan kalimat yang menyatakan kekecewaan mendalam.

Yah, KTT itupun akhirnya digelar. Namun konspirasi tetap berjalan dengan tujuannya yang tak pernah diungkap secara lisan. Meski demikian, tak sulit untuk mengerti tujuan konspirasi itu. Seperti yang dikatakan oleh Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrullah, apa yang sedang terjadi di Gaza adalah pengulangan yang terjadi di Lebanon Juli 2006. Gempuran brutal tanpa mengenal batas kemanusiaan di Gaza sama dengan yang dilakukan Israel di Lebanon. Konspirasipun sama dan yang menarik pelakunya juga sama. Jika di Lebanon, targetnya adalah moqawamah dengan Hizbullah sebagai simbolnya, di Gaza targetnya adalah moqawamah dengan HAMAS yang berada di front terdepan.

Di Doha, Kepala Biro Politik HAMAS Khaled Meshal menyatakan bahwa Hamas tak akan pernah bersedia menerima prakarsa damai dan gencatan senjata yang dipaparkan oleh Israel. Meshal menegaskan bahwa pihaknya menuntut empat hal;

1-     Penghentian agresi

2-     Penarikan mundur tentara zionis dari Gaza

3-     Pencabutan isolasi terhadap Gaza

4-     Pembukaan seluruh pintu penyebrangan ke Gaza, khususnya pintu penyebrangan Rafah

Presiden Suriah Bashar Assad di KTT mendesak semua pihak untuk menutup kedutaan besar Israel dan memutuskan hubungan apapun juga dengan Rezim Zionis Israel. Assad menyebut perjanjian damai dengan Israel sudah tidak ada lagi. Di sela-sela KTT pemerintah Qatar dan Muritania menyatakan membekukan hubungan ekonominya dengan Israel. KTT Doha memang diharapkan bisa menjadi –setidaknya- tanda bahwa masih ada pemimpin Arab yang peduli dengan kondisi warga Palestina di Gaza.


~ by islamthetruth on 18/01/2009.

 
%d bloggers like this: