Memeras Rakyat

PEMERINTAH MEMERAS RAKYAT SENDIRI,Pengangguran Menghadang SBY-JK

PDF Cetak E-mail
Wednesday, 31 December 2008

Presiden SBY yang pintar berjanji tampaknya akan kesulitan tahun depan. Ketika itu terjadi jutaan penganggur baru di Indonesia karena krisis. Pemerintah negeri ini menjadikan surga bagi orang kaya dan neraka bagi orang miskin.

Inilah negeri dengan pemerintah yang tega memeras rakyat sendiri. Bukti: sekarang harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia lebih mahal dari di Amerika Serikat. Seperti dilaporkan Metro TV, 26 Desember lalu, di Amerika, harga bensin terendah 1,48 dollar/galon atau sama dengan Rp 3600/liter. Sedang di Indonesia harga bensin (premium) Rp 5000/liter.

Padahal jenis premium yang dijual di Indonesia adalah kualitas rendah dibanding bensin yang dijual di Amerika Serikat. Artinya pemerintah mengambil keuntungan berlimpah-limpah dari menjual bensin kepada rakyatnya sendiri yang kini sedang dihimpit kesulitan krisis ekonomi. Apalagi kalau dibandingkan bahwa pendapatan perkapita rakyat Amerika 50.000/dollar, sedang rakyat Indonesia hanya 1000 dollar lebih sedikit. Betul-betul luar biasa.

Bukan hanya itu. Mayoritas rakyat kita adalah petani, atau bekerja di sektor pertanian. Ditaksir 43% tenaga kerja kita – atau sekitar 100 juta – bekerja di lingkungan pertanian. Mayoritas di antara mereka adalah petani gurem dan miskin. Tapi apa yang dilakukan pemerintah? Menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) setiap tahun.

Mufid A.Busyairi, anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa, menulis di koran TEMPO 26 Desember lalu, bahwa sawahnya di Jawa Tengah yang cuma 1300 meter dikenakan PBB Rp 2 juta/tahun. ‘’Jika ditanami padi, keuntungan sawah hanya cukup untuk membayar PBB,’’ tulis Busyairi. Jangan heran kalau para petani terus saja menjual sawahnya.

Sebaliknya, tulis Busyairi, pengusaha besar dibebaskan memiliki lahan yang sangat luas, didukung bermacam fasilitas yang diberikan negara, antara lain, kemudahan kredit bank dengan bunga rendah. Maka pengusaha besar Tomy Winata dikabarkan membuka sawah besar-besaran di Sulawesi.

Inilah sekarang yang sedang terjadi di Indonesia. Rakyat banyak ditekan atau tak dipedulikan, sementara pengusaha besar dibantu habis-habisan. Semua ini tak lain sebagai konsekuensi pemerintahan SBY-JK menggunakan sistem kapitalisme kebablasan atau laisssez-faire, menjadikan negeri ini sorga bagi orang kaya, neraka bagi si miskin.

Penunjukan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dan Pelaksana Menko Perekonomian, tak lain merupakan simbol menancapnya kuku kapitalisme di Indonesia. Sri Mulyani adalah orang IMF yang dimasukkan di dalam kabinet untuk mensukseskan jalannya kapitalisme di Indonesia.

Belum lama ini Sri Mulyani bahkan berani mengancam Presiden SBY bahwa ia akan mengundurkan diri, bila suspensi terhadap saham Bakrie tak segera dicabut seperti keinginannya. Anehnya, SBY langsung lunglai maka suspensi saham Bakrie di Bursa Efek Indonesia (BEI) dicabut, mengakibatkan harga saham jatuh melorot.

Seperti diketahui karena sejumlah sahamnya digadaikan dan masih dalam penyelesaian, pihak Bakrie meminta pedagangan sahamnya di bursa disuspens alias ditunda untuk sementara. Kalau dilihat di Amerika Serikat dan Eropa sejumlah perusahaan dibantu habis-habisan oleh pemerintah agar tak bangkrut oleh krisis ekonomi – tanpa talangan pemerintah Amerika, Citibank sudah oleng – permintaan pihak Bakrie itu hanya soal kecil.

Tapi Sri Mulyani ngotot perdagangan saham harus diteruskan. Alasannya tentu sangat benar bila didasarkan kebebasan pasar yang dianut sistem kapitalisme. Walau pun kabarnya, dalam kasus ini terselip aroma kepentingan pribadi Sri Mulyani sendiri.

Apa yang ditulis Busyairi tadi atau kisah tentang harga bensin yang lebih murah di Amerika Serikat hanya sebagian kecil. Masih banyak peristiwa serupa yang terjadi di negeri ini. Yang paling mencolok: para pengusaha besar mendapat kemudahan berhubungan dengan bank (termasuk dengan fasilitas bunga rendah), sementara untuk rakyat kecil dan menengah, sulitnya setengah mati.

Presiden SBY sendiri tampaknya sulit menampik Sri Mulyani – dan ideologi kapitalisme — karena hubungannya dengan Amerika Serikat, terutama dengan Presiden George Bush. SBY dan Bush sering telepon-teleponan.

Dalam acara Asian Pacific American Heritage Month di Gedung Putih, Washington, 27 Mei 2005, yang dihadiri Presiden SBY dan keluarganya, para hadirin bisa menyaksikan sendiri betapa dekatnya Presiden Bush dengan Presiden SBY. Ternyata Presiden Bush bukan hanya mengenal Ibu Negara Ani Yudhoyono, tapi juga anak-anaknya.

‘’Saya ingin memperkenalkan Agus dan Edhie, putra Presiden. Selamat datang. Kami gembira kamu hadir. Agus akan menikah 8 Juli yang datang,’’ kata Presiden Bush di depan hadirin (lihat Weekly Compilation of Presidential Documents, 30 Mei 2005). Bisa Anda bayangkan dekatnya hubungan Bush-SBY, sampai-sampai Presiden Bush ingat tanggal perkawinan Agus, padahal dia sulit membedakan Australia dengan Austria.

Dalam suatu kunjungan ke Amerika Serikat selaku Menko Polkam di tahun 2003, SBY pernah berkata, ‘I love the United State with all its faults. I consider it my second country.’’ Terjemahan bebas: Saya cinta Amerika Serikat dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negara kedua saya. (lihat Al Jazeera English – Archive, 6 Juli 2004).

Sejumlah tokoh kita memang dikenal akrab dengan negara asing seperti Profesor B.J.Habibie dengan Jerman atau Ginanjar Kartasasmita dengan Jepang, antara lain, karena mereka lama bersekolah di negeri itu. Tapi belum pernah terdengar keduanya menyatakan secara terbuka Jerman atau Jepang sebagai negeri kedua mereka, sebagaimana SBY dengan Amerika Serikat.

Padahal SBY ke Amerika Serikat cuma mengikuti kursus-kursus singkat, paling lama setahun. Tak aneh kalau banyak tuntutan agar Presiden SBY menjelaskan pernyataannya ini secara terbuka kepada rakyat. Apa yang dimaksudnya dengan mengaku Amerika Serikat sebagai negara kedua? Kenapa tak monoloyalitas hanya kepada Indonesia? Bagaimana patriotismenya?

EXXON MOBIL

Setelah ternyata Barack Hussein Obama memenangkan pemilihan presiden di Amerika Serikat, Presiden SBY pun sibuk ingin menemuinya. Dengan susah payah ia mendapatkan foto Obama semasa kecil di Jakarta, dan itu pun dibawa ke Amerika Serikat, belum lama ini.

Ternyata sampai SBY meninggalkan negeri itu pulang ke Tanah Air, ia gagal menemui Obama. Maka foto yang digotong susah-payah dari Jakarta dititipkan di Kedutaan Besar Indonesia di Washington, untuk diberikan kepada Obama.

Baru saat SBY dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Obama menelepon. Mereka bicara di telepon dalam beberapa menit. Obama pun cuma bicara soal bakso, nasi goreng, dan rambutan, yang sulit dilupakannya.

Agaknya Obama khawatir pertemuannya dengan SBY akan dijadikan bahan kampanye pemilihan umum dan pemilihan presiden oleh SBY. Soalnya, sekarang SBY seakan-akan bekerja hanya untuk mempercantik citranya. Karena itu ia diejek oleh Ketua Umum PDI-P Megawati, senang melakukan tebar pesona.

LSM anti-korupsi, ICW, misalnya, mempermasalahkan gencarnya tiba-tiba departemen-departemen beriklan menjelang pemilihan umum ini. ICW menghitung sekitar Rp 700 juta dana negara dihabiskan untuk biaya promosi itu, yang ternyata untuk kepentingan pencitraan Presiden SBY.

Sekadar contoh, proyek bantuan kecamatan yang sekarang disebut PNPM Mandiri, sudah ada sejak tahun 1999. Tiba-tiba saja menjelang Pemilu ini proyek Departemen Dalam Negeri itu diiklankan begitu gencarnya di televisi dan radio, seolah-olah ia merupakan sukses besar Presiden SBY. Padahal proyek itu tak ada apa-apanya dibanding berbagai proyek pedesaan di zaman Orde Baru dulu.

Sekarang Tim Obama lagi serius membahas ke negeri mana Obama berkunjung selama 100 hari pertama pemerintahannya, setelah ia dilantik 20 Januari mendatang. Soalnya, Obama sudah berjanji akan mengunjungi negara Islam dalam 100 hari pertama. Maka Indonesia dan Turki menjadi dua negara kandidat yang kuat karena keduanya berpenduduk besar dan demokratis.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, semestinya Indonesia mengalahkan Turki. Apalagi Presiden SBY berjasa besar, memberikan sumur minyak Blok Cepu kepada perusahaan minyak Amerika Exxon Mobil. Kalau nanti ternyata Obama memilih Turki, itu tentu karena dia tak mau dimanfaatkan untuk kepentingan kampanye SBY, teman dekat Presiden Bush itu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pun terlihat mulai gerah akan berbagai promosi SBY dan Partai Demokrat yang mengklaim semua sukses pemerintah sebagai hasil kerja SBY dan Partai Demokrat. Maka belakangan ini dia sering mengingatkan bahwa sukses pemerintahan tak lepas dari peranan Partai Golkar yang dipimpin Jusuf Kalla.

Padahal yang dimaksud dengan sukses pemerintah itu tak lebih dari angan-angan. Misalnya, pemerintah bilang tahun depan akan ekspor beras karena produksi beras meningkat. Padahal ketika para petani mulai menanam, di mana-mana pupuk langka. Bagaimana mungkin tanpa pupuk produksi meningkat? Belum lagi berbagai bendungan dan proyek irigasi lainnya warisan Orde Baru kini rusak tak terawat.

Citra SBY memang meningkat di berbagai polling. Itu tak lain disebabkan penampilannya di depan sidang DPR 15 Agustus yang lalu. Di situ dia berpidato menyatakan anggaran pendidikan di dalam APBN 2009 akan dinaikkan menjadi 20% sesuai UUD 1945. Anggota DPR bertepuk dan disaksikan rakyat banyak berkat siaran televisi.

Padahal itu baru janji. Yang terjadi selama beberapa tahun ini APBN yang dikelola pemerintahan SBY selalu melanggar UUD 1945 karena besar anggaran pendidikan jauh di bawah 20%, seperti diamanatkan konstitusi. Jadi SBY sebenanrya mengelola APBN yang inkonstitusional. Tapi caranya berkomunikasi membuat rakyat terkesima.

Setiap menaikkan harga minyak, selalu Menteri yang disuruh mengumumkannya. Tapi kini dua kali menurunkan harga BBM, SBY tampil langsung di televisi. Jurubicaranya Andi Mallarangeng pun berteriak-teriak mempromosikan hebatnya pemerintahan SBY bisa menurunkan harga BBM sampai dua kali.

Pernyataan Andi sungguh membingungkan secara logika, apalagi kalau diingat dia seorang bertitel Ph D. Apa alasan memberi prestasi pada pemerintahan SBY dalam menurunkan harga BBM, karena harga BBM internasional memang turun tajam.

Apalagi walau sudah dua kali diturunkan, harga BBM di Indonesia terbukti masih lebih mahal dari di Amerika Serikat. Tampaknya Andi ini bingung apakah dia berbicara sebagai jurubicara presiden yang digaji negara, atau sebagai salah seorang Ketua Partai Demokrat.

HADAPI PENGANGGURAN

Tampaknya sebentar lagi cara berjanji atau berpromosi dengan akan… akan itu, akan menyulitkan pemerintahan SBY. Soalnya resesi ekonomi yang kini melanda dunia akan berdampak ke Indonesia, yaitu dengan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), atau melonjaknya angka pengangguran.

Di Amerika Serikat, Profesor Lawrence Summers, Menteri Keuangan di masa pemerintahan Presiden Bill Clinton dan bekas Rektor Universitas Harvard, yang terpilih menjadi Kepala Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih dalam pemerintahan Obama, menyatakan bahwa Obama akan menghadapi kondisi ekonomi paling buruk sejak Perang Dunia II.

Sekarang pengangguran di Amerika sudah mendekati 6%. Menurut Summers, akhir 2009, angka pengangguran bisa mencapai 10%, selain terjadi penurunan pendapatan rumah tangga. Jadi bila dibaca tulisan Summers di koran The Washington Post, 28 Desember lalu, ternyata resesi masih memuncak di Amerika sampai berakhirnya tahun 2009.

Malah ada yang meramalkan resesi akan sangat panjang karena sekarang saja belum bisa diramalkan seberapa dalam sumur resesi yang terjadi. Banyak yang berpendapat resesi belum mencapai dasar sumur yang sesungguhnya. Ia masih akan terus menukik.

Resesi yang melanda Amerika Serikat, Eropa, Jepang, tentu sangat berdampak kepada Indonesia karena hampir 50% ekspor kita dikirim ke sana. Oleh karena itulah Departemen Perindustrian sudah menyatakan bahwa pertumbuhan sektor tekstil, barang kulit, dan alas kaki, pada tahun depan akan minus 2,2%.

Persoalan yang mirip terjadi pada perkebunan kelapa sawit, coklat, dan karet. Ekspornya melemah. Itu tentu menimbulkan ancaman pengangguran yang amat mengerikan. Sekarang sebenarnya sudah mulai terjadi PHK di mana-mana, tapi diramalkan PHK akan sangat ramai di tahun 2009.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi meramalkan akan terjadi pengangguran 1 juta pekerja Indonesia pada 2009. Itu disebabkan krisis akan memukul sektor riel pada tahun depan. ‘’Krisis menyebabkan daya beli masyarakat turun dan ekspor anjlok,’’ kata Wanandi (Koran Tempo, 20 Desember 2008).

Apalagi, katanya, perbankan mengetatkan pinjaman karena khawatir pada kredit macet. Itu mengakibatkan terjadi penurunan kapasitas produksi sekitar 30%. Maka terjadilah pemangkasan tenaga kerja alias PHK.

Menurut Wanandi, yang paling banyak memangkas pekerja adalah sektor konstruksi dan perkebunan. Di perkebunan kelapa sawit, menurut dugaan Wanandi, sekitar 100 ribu buruh akan kena PHK tahun depan. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Sutrisno meramalkan sedikitnya 80.000 pekerja tekstil akan terpangkas.

Semua perkiraan ini tak menghitung PHK di sektor informal yang justru tempat mayoritas pekerja Indonesia mengais rezeki. Krisis sekarang tentu juga memukul sektor ini, hanya ia sering tak terdeteksi.

Bukan cuma Indonesia. Negara tetangga Malaysia juga terpukul. Ekspor kelapa sawitnya anjlok mengakibatkan para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di negeri jiran terancam PHK dan akan dipulangkan ke Indonesia.

Jumlah mereka tak sedikit, ratusan ribu orang. Bayangkan gawatnya keadaan Indonesia kalau satu juta penganggur baru di dalam negeri ditambah lagi ratusan ribu penganggur baru yang pulang dari Malaysia.

Parahnya keadaan ini menurut Wanandi, karena ekspor Indonesia sulit dialihkan ke tujuan baru – di luar Amerika, Eropa, dan Jepang – karena kalah bersaing dengan produk China. Harga produk Indonesia lebih mahal karena pabrik di Indonesia belum efisien dan tak ada fasilitas dari pemerintah. Jangan kata fasilitas, sekarang pabrik-pabrik di Indonesia harus berproduksi dengan BBM lebih mahal daripada di Amerika Serikat. Listrik pun digilir pada pusat-pusat Industri Indonesia.

Satu hal yang pasti, ketika nanti pengangguran mencapai puncaknya, Presiden SBY tentu tak bisa hanya memberi janji-janji atau berkata akan…. akan, seperti biasa dilakukannya selama ini. Bagaimana pun perut lapar tak bisa disuruh menunggu.

AMRAN NASUTION

~ by islamthetruth on 17/02/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: