Tipuan “Doa Makbul” Sambut Natal di Medan

alt

PostAuthorIconWritten by Shodiq Ramadhan

Misi Kristen memang aneh dan tidak konsisten. Menyambut hari raya Natal tahun ini, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mencanangkan tema Natal “Tuhan itu baik kepada semua orang.” Dalam pesan natal bersama yang ditandatangani oleh Pdt Dr AA Yewangoe (Ketum PGI), Pdt Dr R Daulay (Sekum PGI), Mgr MDSitumorang OFMCap (Ketua KWI) dan Mgr A Sutrisnaatmaka MSF (Sekjen KWI), mereka mengimbau umat kristiani untuk menyatakan kebaikan kepada semua manusia. Berikut cuplikan pesan Natal PGI dan KWI:

“Oleh karena itu, kala merayakan peringatan kelahiran Yesus Kristus, kami mengajak seluruh umat Kristiani setanah-air untuk bersama-sama umat beragama lain menyatakan kebaikan Tuhan itu dalam semangat kebersamaan yang tulus-ikhlas untuk membangun negeri tercinta kita.”

Praktiknya, tak sedikit penginjil yang membelot, bukannya menyatakan kebaikan, melainkan menebar kebohongan dan permusuhan kepada umat Islam. Setidak-tidaknya ini terjadi di Medan Marelan beberapa hari lalu. Di sana, buku berjudul “Rahasia Doa-doa Yang Dikabulkan” disebarkan kalangan Muslim. Tak sedikit umat Islam yang membeli buku ini karena mengira buku itu sebagai buku tuntunan ibadah islami. Mereka terkecoh dan mengira buku ini sebagai bacaan Islam, karena tampilan buku ini penuh dengan idiom-idiom Islam.

Pada sampul depannya terdapat kaligrafi khat Arab “Ya robbi,” yang ditulis oleh Hanan El-Khouri. Pada halaman judul, disebutkan bahwa buku tersebut diterbitkan oleh Tunas Isai, setting dan layout dikerjakan oleh El-Quds Comp. Istilah-istilah Islam pun berjejal dalam buku setebal 120 halaman tersebut, misalnya: alhamdulillah, allohumma, ya robbi, Allah Ta’ala, dll.

Pengelabuan lainnya, Hanan menerjemahkan istilah teologi Kristen menjadi istilah-istilah Arab, misalnya: Yesus diterjemahkan menjadi Sayyidina Isa Al-Masih, Yesus juru selamat penebus dosa seluruh dunia diterjemahkan menjadi Mukhalishul-‘Alam, Injil Yohanes diterjemahkan jadi Bisyarah Yahya, dll.

Umat Islam awam semakin percaya buku itu sebagai bacaan Islam, karena dalam buku tersebut banyak dikutip ayat-ayat Al-Qur’an, antara lain: Al-Fatihah, An-Nas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, Al-Baqarah, Al-A’raf, As-Sajdah, Al-Mu’min, Ar-Ra’d, dll.

Perhatikan muqadimah buku tersebut: “Alhamdulillah, dengan mengucap syukur ke hadhirat Allah semata-mata, yang telah melimpahkan ni’mat dan karunia-Nya sehingga buku kecil berjudul Rahasia Doa-doa Yang Dikabulkan ini dapat terbit” (halaman iii). Luar biasa islami!

Berikutnya, pada bab I (hlm. 1-15) buku ini secara khusus memaparkan makna doa yang digali dari ayat-ayat Al-Qur’an, bahwa doa itu membuka komunikasi untuk mendekatkan diri (taqarrub) dan mengingat (dzikir) kepada Allah serta mengagumi kebesaran dan kekuasaan-Nya (hlm. 2). Kemudian Hanan mengutip doa-doa Al-Qur’an lengkap dengan nas Arab, transeliterasi dan terjemahannya, antara lain: surat Al-Fatihah 1-7, surat Al-Alaq 1-5, surat Al-Falaq 1-5, surat Al-Ikhlas 1-4 dan surat An-Nas 1-6, surat Al-Baqarah 255 dan doa dalam hadits Shahih Bukhari. Hanan memuji doa-doa tersebut dengan kalimat yang sangat indah: “Dan lebih penting lagi, doa-doa tersebut sangat indah dan bermakna universal, sehingga bisa dijadikan teladan oleh semua orang” (hlm. 3). Sampai di sini pun belum nampak identitas kekristenan buku itu.

Tapi, sepandai-pandai meramu bahasa, tapi yang namanya doktrin ketuhanan tidak bisa ditutupi, karena kekafiran dan ketauhidan adalah dua hal yang jauh berbeda dan tak dapat dicampuraduk. Kekristenan buku Rahasia Doa-doa Yang Dikabulkan mulai nampak pada ujung bab I diakhiri dengan dua buah kaligrafi bertuliskan “Al-mahabbatu hiya takmiilun-naamuus” (Kasih adalah kegenapan hukum agama) yang diambil dari Bibel, surat Paulus kepada Jemaat di Roma pasal 13 ayat 10.

Kekristenan buku ini nampak terang pada Bab II berjudul “Rahasia Doa-doa yang Makbul dalam Injil” (hlm. 17–35). Pada halaman 33-4 ditulis sbb:

“Sebelum kita memanjatkan permohonan untuk kepentingan hidup kita, lebih dahulu wajiblah kita mengucap syukur kepada-Nya karena rahmat dan ni’mat-Nya. Dan yang lebih penting lagi, kita memohon pengampunan atas dosa-dosa kita melalui syafa’at Isa Al-Masih. Jadi, kalau kita berdoa dalam nama Sayyidina Isa Al-Masih, Kalimatullah Al-Hayat (Firman Allah yang Hidup), dia berkenan menjadi pengantara bagi kita, dan memberikan syafaat atas dosa-dosa kita di hadapan Allah Yang Maha Adil” (hlm. 33-34).

Itulah inti ajaran buku ini, yaitu menggiring pembaca secara perlahan agar mohon pengampunan dosa melalui Yesus Kristus, karena dialah satu-satunya pribadi yang dalam doktrin Kristen diyakini sebagai orang yang dapat menebus dosa manusia dengan darah kematiannya di tiang salib.

Menurut Islam, ajaran Hanan El-Khuri itu dosa besar. Doa hanya boleh ditujukan kepada Allah karena hanya Dia yang Maha mengabulkan doa. Doa kepada-Nya pun harus dilakukan secara langsung, karena Allah itu dekat dengan hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya (Qs. Ar-Ra’d 14, Al-Baqarah 186, Al-Mu`min 60).

Bibel pun mengajarkan doa dan permohonan langsung dalam nama Tuhan, bukan dalam nama Yesus. Para Nabi diberkati dalam nama Tuhan, bukan dalam nama Yesus (Mazmur 118:26, 129:8). Mereka mendapat pertolongan dari Tuhan, bukan dari Yesus (Mazmur 124:8). Nabi Hagai dan Zakharia bernubuat dalam nama Allah, bukan dalam nama Yesus (Ezra 5:1). Dalam Injil, Yesus diberkati dalam nama Tuhan (Matius 21:9 dan 23:39). Jika Hanan meneladani Yesus, jangan berdoa dan minta pertolongan kepada Yesus, tapi kepada Tuhannya Yesus.

Ayat Kursi Injiliyah Tak Bertuan

Hanan El-Khouri mengadopsi istilah khas Al-Qur’an surat Al-Baqarah 255 yang disebut “Ayat Kursi.” Istilah dalam dibajak menjadi “Ayat Kursi Injiliyah” yang ditempelkan pada kitab Ibrani 1:8-9 edisi Arab sbb:

“Kursiyuka Yaa Allah, tsabitun ilaa abadid-duhuuri. Wa shaulajaanul ‘adli shaulajaanu mulkika tuhibbul-haqqa wa tubighdhul-baathila. Yaa ayyuhal masih, li dzalika masahaka Allahu ilahuka bizaitil-bahjati duuna rafaaqika.”

Artinya: “Kursi-Mu Ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan, wahai Al-Masih, karena itu Allah, Tuhan-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kegembiraan melebihi teman-teman yang bersama-Mu” (hlm. 90).

Istilah “Ayat Kursi Injiliyah” dalam ayat tersebut tidak akan pernah populer, karena tidak didukung oleh nas Bibel yang baku, baik versi Arab maupun terjemahannya.

Misalnya, Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) 2009 kitab Ibrani 1:8 tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, karena ayatnya berubah menjadi: “Tetapi tentang anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran…” Karena kata “Kursiyuka ya Allah” pada ayat ini berubah menjadi “Takhta-Mu ya Allah,” maka ayat ini tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, melainkan harus disebut “Ayat Takhta Injiliyah.”

Dalam Alkitab LAI cetakan tahun 1960, Ibrani 1:8 juga tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, karena ayatnya berbunyi: “Arasy-Mu, ya Allah, ada selama-lamanya…” Karena kata “Kursiyuka ya Allah” pada ayat ini berubah menjadi “Arasy-Mu ya Allah,” maka ayat ini tidak bisa disebut sebagai Ayat Kursi Injiliyah, tapi harus disebut “Ayat Arasy Injiliyah.”

Dalam Alkitab Bahasa Sunda, karena ayatnya berbunyi: “Karajaan Hidep, ya Allah, pingadegeun salalanggengna…” maka ayat ini tidak boleh disebut Ayat Kursi Injiliyah, melainkan Ayat Karajaan Injiliyah. Dalam Alkitab Bahasa Jawa, karena ayatnya berbunyi: “Paduka menika Allah, Paduka badhé jumeneng Raja ing salami-laminipun…” maka ayat ini tidak boleh disebut “Ayat Kursi Injiliyah,” melainkan “Ayat Paduka Injiliyah,” dan seterusnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ayat Kursi Injiliyah buatan Hanan El-Khouri itu sama sekali bukan untuk konsumsi teologi jemaat Kristiani, melainkan omong kosong yang diada-adakan untuk mencemari akidah Islam. Upaya ini pun gagal total, karena nas ayat yang dijadikan sandaran sangat rapuh.

Pada halaman 92 Hanan menyebut Ayat Kursi Injiliyah (Ibrani 1:8) sebagai ajaran Isa Al-Masih yang menegaskan kekuasaan Allah yang telah memilih Isa sebagai Raja Penyelamat dari Allah. Inilah kesalahan Hanan yang sangat fatal. Sebagai seorang penginjil, semestinya dia tahu bahwa kitab Ibrani bukanlah Injil peninggalan Nabi Isa. Kitab Ibrani dalam Bibel adalah surat-surat kepada jemaat di Ibrani, yang ditulis oleh penulis yang tidak mencantumkan namanya. Hal ini membuat para teolog sampai sekarang tidak bisa mengungkap siapa penulis kitab Ibrani dalam Bibel. Untuk mengisi kekosongan daftar penulis Bibel, sejak abad keempat kitab Ibrani dikaitkan kepada Paulus.

Jelaslah bahwa Hanan El-Khuri memang hobi menipu. Pertama, dia meniup umat Islam dengan buku Kristen berkedok Islam. Kedua, menipu jemaatnya dengan merekayasa Ayat Kursi Injiliah, padahal tidak ada. Ketiga, menipu umat Kristen dengan menyebut kitab Ibrani sebagai ajaran Yesus, padahal kitab ini masih misterius tak diketahui penulisnya. Kalau dikumpulkan, daftar penipuan dalam buku Hanan El-Khuri itu masih banyak.

Pendeta Hanan. Biado langa Pendeta, sampe andingan hamu manggadis agama on dengan margabus? Jujur ma songoni. Horas bah..!

A. AHMAD HIZBULLAH MAG
[www.ahmad-hizbullah.co.cc]

~ by islamthetruth on 27/12/2009.

One Response to “Tipuan “Doa Makbul” Sambut Natal di Medan”

  1. assalamualikum,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: