Cara beragama ahli kitab : Memperselisihkan ayat-2 Allah

Cara Beragama Ahli Kitab: Memperselisihkan Ayat-ayat Allah PDF Print E-mail
Written by Zulfikar Abdurrahman
Thursday, 04 September 2008

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَاخْتُلِفَ فِيهِ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu

(QS Fushshilat 41: 45)

Dalam ayat yang dikutip di atas Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa orang-orang Yahudi terhadap kitab sucinya sendiri saling memperselisihkan. Mereka yangikhlah beramal karena Allah semata meyakini bahwa Taurat memberitakan kedatangan Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Bahkan dalam QS 2: 146 Allah berfirman bahwa mereka mengenal Muhammad sebagaimana mengenal anak mereka sendiri. Bahkan seorang pendeta Yahudi Abdulah bin Salam pernah mengatakan bahwa dia lebih meyakini Muhammad sebagai nabi daripada anaknya sendiri. Dia menjelaskan bahwa yang memberitahukan bahwa Muhammad itu nabi adalah Allah, tetapi yang memberi pengakuan tentang anaknya adalah istrinya.

Penyakit yang diderita oleh orang Yahudi itu ternyata dialami oleh orang-orang nasrani. Mereka berselisih hebat tentang keesaan Tuhan. Satu golongan mempercayai bahwa Isa itu hanya utusan Tuhan sedang Tuhan yang mengutusnya adalah Tuhan yang Esa. Tetapi sebagian lain mempercayai Isa sebagai anak Allah, yang bersama-sama dengan Allah Bapak dan Roh Kudus tergabung ke dalam konsep Trinitas. Memerlukan dua sidang konsili untuk menyingkirkan pendapat Tuhan itu Esa.

Nampaknya penyakit yang dialami oleh para ahli kitab itu juga merasuki umat Islam. Padahal mereka sudah diberi peringatan agar jangan berperilaku seperti para ahli kitab (QS Al Hadid 57: 16). Dalam soal makanan misalnya Allah mengharamkan hanya empat macam sembelihan saja (QS 6: 145), tetapi banyak orang yang sok merasa tahu menambah-nambah menjadi sederet panjang sembelihan yang tidak boleh dimakan. Bahkan ada juga yang memfatwakan bawha kodok itu boleh diternakkan tetapi tidak boleh dimakan. (Lha mau untuk apa diternakkan?)

Telah muncul orang-orang yang merasa pintar yang melarang poligami. Allah memperbolehkan poligami tetapi orang-orang ini melarangnya. Betapa lancangnya mereka? Mereka beralasan bahwa dahulu jumlah penduduk masih sangat sedikit sehingga poligami diperbolehkan. Sekarang jumlah penduduk sudah banyak, maka wajar kalau poligami dilarang. Kalau alasannya jumlah penduduk sedikit maka poligami diperbolehkan, lalu mengapa jumlah wanita yang boleh dinikahi dibatasi maksimum 4 orang? Tidak puas hanya dengan membuat peraturan yang mempersulit proses poligami, mereka mengajukan konsep pelarangan poligami. Ayat-ayat muhkamat yang begitu mudah dan jelas difahami saja diperselisihkan apalagi yang mutasyabihat.

Tidak henti-hentinya anthek-anthek Yahudi di seluruh penjuru dunia ini berbuat nakal terhadap Islam dan umat Islam. Mereka tidak puas hanya dengan menduduki Palestina, Irak, Afganistan, dan Chechnya, sehingga mereka berbuat makar dimana-mana. Mereka banjiri anthek-anthek mereka dengan dolar untuk memporak porandakan barisan Islam. Karena tidak berhasil memalsukan Al Qur’an mereka memalsukan hadist. Namun seleksi terhadap hadist-hadist shaheh dan dlo’if sudah demikian bagus sehingga makar mereka terbongkar. Sekarang mereka bergerak mengacak-acak tafsir Al Qur’an dengan memperkenalkan Hermeneutika. Satu metode tafsir yang mereka katakan sebagai metode tafsir modern yang memperlakukan Al Qur’an sebagai produk budaya. Padahal kita semua tahu bahwa Al Qur’an bukan produk budaya. Tidak ada seorang manusiapun berani mengakui bahwa Al Qur’an itu karya ciptanya. Berbeda dengan Injil dan Taurat yang ada di tangan mereka. Al Qur’an adalah wahyu Allah yang bebas dari kesalahan, kebatilan, dan pertentangan. Allah menjamin kemurnian dan berjanji untuk menjaganya sendiri. Mereka baru boleh mengklaim Al Qur’an sebagai produk budaya kalau mereka telah mampu memenuhi tantangan Allah dalam QS 2: 23 untuk membuat satu surat yang sebanding dengan surat Al Baqarah. Selama mereka belum memenuhi tantangan tersebut tidak layak mereka mengatakan Al Qur’an sebagai produk budaya. Kalau mereka memaksakan diri mengatakan bahwa Al Qur’an sebagai produk budaya, maka mereka telah memperkosa prinsip-prinsip ilmiah yang mereka gariskan sendiri. Mereka telah menodai logika berfikir mereka sendiri. Lalau agenda apa yang berada di balik gerakan tersebut. Tentu saja arahnya untuk melakukan desakralisasi kitab suci Al Qur’an. Bagi Taurat dan injil yang mengandung pertentangan yang banyak di dalamnya, wajar kalau kehilangan nilai sakralnya. Akan tetapi berbeda dengan Al Qur’an, sampai kapanpun Al Qur’an akan tetap sakral bagi umat Islam yang mukhlis. Yang perlu diwaspadai adalah mereka yang mengajarkan dan mempromosikan Hermeneutika. Ilmu baru yang didesain oleh Yahudi dan anthek-antheknya itu tidak layak untuk berkembang di Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau dibiarkan berkembang maka ilmu ini berpotensi menimbulkna perselisihan yang dahsyat di antara sesama umat Islam di masa mendatang. Topik-topik yang diperselisihkan di tengah-tengah umat Islam sudah terlalu banyak tidak perlu lagi ktia menambahnya dengan Hermeneutika yang akan membuahkan badai perselisihan yang besar dan banyak di masa mendatang. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Menteri Agama harus berani mengambil sikap tegas untuk menghentikan penyebarannya karena memiliki potensi menghancurkan umat Islam dari dalam



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: